3. TENTANG "KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU"

( Hatimu itu laksana gudang dimana didalamnya dapat engkau simpan berbagai pengetahuan yang engkau tangkap melalui panca indramu sedangkan fikiranmu itu laksana perencana yang dapat menyempurnakan pengetahuanmu itu )

Yang dimaksudkan dengan “Ilmu” tersebut adalah “pengetahuan” dimana dengan pengetahuan tersebut akan dapat diketahui hal ihwalnya segala sesuatu, maka tanpa pengetahuan tersebut otomatis menjadi mustahil dapat melakukan sesuatu itu sendiri.
Ketahuilah, setengah dari pada fungsi “ilmu” itu adalah dimana ia dapat menjadi perangsang bagi hati untuk membuktikan kebenaran dari ilmu itu sendiri, seperti halnya keinginan untuk menggunakan korek api.

( Al-Ilmu nuurun” (Ilmu itu laksana cahaya), jika hatimu itu dipenuhi oleh cahaya ilmu, niscaya ia akan mampu mempengaruhi hatimu untuk bertindak sebagaimana yang diketahui oleh ilmu yang meneranginya, sebab tidak mungkin keinginan itu dapat tumbuh dihatimu jika tidak adanya sesuatu yang diketahui oleh hatimu (berupa ilmu) )

Seandainya ada seseorang yang benar-benar tidak mengerti dan tidak tahu bentuk dan kegunaan serta bagai mana menggunakan “sebuah korek api” tersebut, kemudian kepadanya diperkenalkan sebuah korek api tersebut dan kepadanya diajarkan tentang bagai mana menggunakannya dan sebagainya, maka setelah ia tahu bahwa korek api tersebut dapat menghasilkan api dan ia mengerti bagai mana menggunakannya dan sebagainya, otomatis yang demikian akan dapat merangsang hatinya untuk mencoba menggunakannya, tetapi seandainya kepadanya tidak diajarkan hal ihwal mengenai korek api tersebut dan kepdanya hanya diberikan korek api nya saja, maka otomatis yang demikian tidak akan mampu menggugah hatinya untuk mencoba menggunakannya, hal ini disebabkan karena ketidaktahuannya akan kegunaan dan manfaat serta bagai mana cara menggunakannya tersebut.
Maka “tahu pada bentuk dan kegunaan serta mengerti bagai mana cara menggunakannya” tersebut itulah yang disebut “Ilmu”, sehingga sebab ilmu itu hatinya menjadi tergugah untuk melakukan apa-apa yang telah diketahui oleh ilmu tersebut.

( Bagaimana mungkin engkau mengenal Allah jika engkau tidak berilmu, bukankah ilmu itu artinya mengetahui, lalu bagaimana mungkin engkau mengetahui jika sesungguhnya Tuhanmu itu senantiasa ada bersamamu, senantiasa mengawasimu jika engkau tidak berilmu (bodoh), oleh karena itu carilah ilmu walau jauh diujung dunia sekalipun )

Maka begitu pula halnya dengan cara bagai mana mengenal Allah atau Ma’rifat kepadaNya (Ilmu Tauhid) dan bagai mana cara berhubungan kepada Allah (Ilmu Syari’at) setelah mengenalNya dan sebagainya, yang kesemua itu hanya dapat diketahui dengan “Ilmu” yaitu Ilmu Tauhid dan Ilmu Syari’at sehingga dengan “ilmu” itu hati menjadi tergugah untuk membuktikannya dan sebagainya.
Disisi lain dikatakan bahwa, “ilmu” itu merupakan syarat mutlak diterima atau tidaknya amal-amal seseorang, maka amal-amal (ibadah) yang tidak didasari oleh “Ilmu”, niscaya amal-amal tersebut akan ditolak oleh Allah swt, dan hal ini sebagai mana disebutkan bahwa :

( fakullu mam bihgoiri ilmin ya`malu, a`maluhuu mardudatun laatuqbalu)
(maka tiap-tiap amal yang dikerjakan dengan tanpa ilmu (kebodohan), maka amal-amalnya itu dibalikkan kepadanya)

( Sungguh tiap-tiap amal yang engkau kerjakan tanpa didasari oleh ilmu, pastilah amal-amalmu itu akan tertolak, sebab bagaimana mungkin engkau dapat melakukan sesuatu sedangkan engkau tidak mengetahuinya, lalu apakah mungkin engkau dapat dikatakan “berdialog” jika engkau tidak mengetahui makna dialogmu itu, perhatikanlah sabda Nabimu : “Tholabul ilma walau bis siin” (Tuntutlah ilmu walau jauh dinegeri cina) )

Dengan demkian,  setiap amal yang dilakukan tanpa ilmu atau pengetahuan pasti tidak akan diterima, sebab bagai mana mungkin amal-amal (ibadahnya) tersebut akan diterima bila dilakukan  dengan ketidak tahuan kepada siapa ia “beribadah (tanpa Ilmu Tauhid), kemudian bagai mana mungkin ia dapat melakukan “ibadah” tersebut bila ia tidak tahu caranya berhubungan (Ilmu Syari’at), sehingga seperti tlah dikatakan diatas, otomatis melakukan amal-amal (ibadah) tersebut dengan tanpa dasar ilmu atau pengetahuan, yang demikian pasti ditolak dan akan dikembalikan kepadanya.

Maka atas dasar itulah telah dikatakan bahwa menuntut “Ilmu” itu adalah merupakan hal yang di wajibkan dan hal ini sebagai mana sabda Nabi Saw :

“tholabul ilmi fariidhotun alaa kulli muslimin wamuslimatin”
(menuntut ilmu itu wajib atas tiap-tiap muslim laki-laki dan perempuan).

(Jika engkau fahami dan engkau taati sabda Nabimu itu, niscaya engkau akan menjadikan ilmu itu sebagai sesuatu yang penting untuk kau pelajari)

Bila hal ini telah difahami, maka menuntut ilmu itu adalah suatu hal yang harus diutamakan dan menyepelekannya adalah bentuk kebodohan yang kelak hanya akan membuahkan penyesalan, penyesalan didunia mungkin masih ada jalan keluarnya, tetapi penyesalan diakhirat itulah penderitaan yang tidak berujung.

Maka dikatakan bahwa dengan “ilmu” tersebut, ia menjadi tahu dan mengerti segala hal yang diwajibkan atasnya seperti sholat, puasa dibulan romadhon, juga yang disunnahkan, yang diharamkan, yang dihalalkan, yang dibolehkan, yang dibenci (makruh) atau semua amal –amalan yang akan dilakukannya akan selalu didasari oleh “ilmu” adanya, dan hanya dengan ilmu itulah ia tahu bagai mana cara membangun hubungan dan berhubungan kepadaNya dan sebagainya.

( Sungguh jika menuntut ilmu itu “wajib”, tiadalah didalamnya melainkan ada “wajib ain dan wajib kifayah”, maka mempelajari apa-apa yang pokok dan penting dimana engkau membutuhkannya, itulah yang “ain” bagimu, sedangkan menuntut ilmu dimana yang kemanfaatannya kembali kepada hajat orang banyak sedangkan diantaramu itu sudah ada yang menuntutnya, maka gugurlah kewajibanmu itu dan itulah yang dimaksud wajib kifayah )

Adapun yang dimaksud “ilmu yang wajib dituntut” sebagai mana kata hadis tersebut diatas adalah, ilmu-ilmu yang mampu membaguskan amalan-amalan dhohir (syari`at) dan ilmu-ilmu yang mampu menyempurnakan keimanan (Tauhid), kemudian dikatakan “wajib” yang demikian iu otomatis tidak lepas dari pada hukum “wajib ain” dan “wajib kipayah”, adapun “wajib ain” adalah kewajiban (menuntut ilmu) yang dibebankan kepada setiap orang, yang apabila ia tidak mengetahuinya atau tidak mempelajarinya, maka otomatis secara pribadi ia dinyatakan “berdosa” oleh Alloh swt. Hal ini seperti keadaan seseorang yang pada jam 11 an (belum masuk waktu dhuhur), dimana pada jam tersebut ia persis masuk masa akil balligh (dinyatakan sudah cukup umur) sehingga ia telah terkena hukum “wajib” untuk mengerjakan amal-amal yang diwajibkan seperti orang dewasa lainnya, otomatis kepada orang tersebut telah berlaku kewajiban untuk mempelajari hal ihwal (ilmu) mengenai bagai mana caranya “Bersyahadat” (Mengenal Allah) dn sebagainya, dan saat itu kepadanya belum diwajibkan  untuk menuntut ilmu tentang bagai mana caranya melaksanakan sholat zhuhur karena keadaannya belum masuk waktu zhuhur tersebut, tetapi ketika orang tersebut telah memasuki waktu zhuhur tersebut, maka otomatis kepadanya diwajibkan untuk mempelajari ilmu-ilmu tentang bagai mana melaksanakan sholat, khususnya bagaimana caranya melakukan “sholat zhuhur tersebut” dan kewajiban-kewajiban tersebut itulah yang dinamakan “Wajib ain” dimana bila ia tidak mmpelajarinya niscaya ia terkena hukum “berdosa” dan kewajiban-kewajiban menuntut ilmu tersebut dapat terjadi sesuai tingkat dan kadar kebutuhan yang ia alami, dimana hal yang ia alami tersebut membutuhkan ilmu pengetahuan didalamnya.

Kemudian “Wajib Kifayah”, maka yang dimaksud adalah “kewajiban menuntut ilmu” yang apabila dalam satu wilayah atau daerah tertentu sudah ada yang menuntutnya atau sudah ada yang menguasainya, maka otomatis yang lainnya sudah tidak lagi diwajibkan untuk menuntut ilmu tersebut atas mereka. Hal ini seperti kewajiban untuk “mempelajari ilmu-ilmu  kedokteran”, dikatakan bahwa bila dalam suatu wilayah tersebut sama sekali tidak ada yang memahami ilmu-ilmu kedokteran tersebut, maka otomatis semua orang diwilayah tersebut dinyatakan berdosa dan terkena kewajiban untuk mempelajarinya, tetapi bila telah ada yang mempelajarinya atau telah ada yang menjadi dokter walaupun itu hanya satu orang, maka otomatis kewajiban untuk mempelajari ilmu kedokteran tersebut menjadi gugur sebab sudah ada yang menguasainya tersebut.

Maka berangkat dari konsep keilmuan tersebut diatas, khususnya ilmu tauhid yaitu ilmu mengenal Allah (ilmu ma’rifat) sehingga dengan ilmu tauhid tersebut seseorang yang menguasainya ia menjadi tahu dan mengerti kepada siapa seharusnya ia bersembah sujud (berhubungan), kemudian bagai mana mengesakanNya dan sebagainya adalah merupakan keilmuan yang wajib dipelajari oleh setiap orang mu’min, kemudian bagai mana cara berhubungan kepadaNya yang diatur dalam “Ilmu Syari’at” juga merupakan kewajiban bagi setiap muslim (Wajib Ain) untuk mempelajarinya, adapaun ilmu-ilmu yang selainnya seperti “ilmu kedokteran”, dan ilmu-ilmu keduniaan lainnya merupakan kewajiban yang masuk dalam kategori “Wajib Kifayah” yang apabila sudah ada yang menguasainya, maka yang lainnya sudah tidak lagi diwajibkan untuk mempelajarinya.

“Sungguh tiap-tiap amal yang engkau kerjakan tanpa didasari oleh ilmu, pastilah amal-amalmu itu akan tertolak, sebab bagaimana mungkin engkau dapat melakukan sesuatu sedangkan engkau tidak mengetahunya, lalu apakah mungkin engkau dapat dikatakan “berdialog” jika engkau tidak mengetahui makna dialogmu itu, perhatiukanlah sabda Nabimu : “Tholabul ilma walau bis siin” (Tuntutlah ilmu walau jauh dinegeri cina)”

Jika hal ini telah difahami, maka menuntut atau mempelajari ilmu-ilmu agama (ilmu tauhid dan ilmu syari’at) tersebut adalah merupakan hal yang diwajibkan atas setiap muslim (wajib ain) adanya, dan ketahuilah bahwa, sesungguhnya ilmu-imu tauhid tersebut lebih bersifat “Bathiniyah” sedangkan “Ilmu Syari’at” tersebut lebih bersifat dhohiriyah (amalan-amalan lahir), dan keduanya tidak dapat disatukan tetapi keduanya adalah dua bidang yang harus diisi sehingga mengisi keduanya akan membentuk pengabdian (ibadah) yang sempurna, dan melakukan pemisahan antara satu dengan lainnya (tidak mengisi salah satu dari keduanya), otomatis akan melahirkan ketidak sempurnaan didalam beribadah mengabdikan diri tersebut dan hanya akan semakin menjauhkan diri dari tujuan ibadah yang sebenarnya, dimana dikatakan bahwa tujuan dari pada jin dan manusia itu diciptakan tersebut adalah tidak lain untuk beribadah mengabdikan diri kepada Allah swt. Sebagai mana firman Allah :

“wamaa kholaqtul jinna wal insa illaa liya`buduun”
(tiada Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah mengabdikan diri kepadaKu)

(Tiadalah engkau diciptakan oleh Tuhanmu melainkan engkau harus beribadah mengabdikan dirimu kepadaNya, lalu bagaimana mungkin engkau dapat beribadah kepadaNya jika engkau tidak mengenal (ma’rifat) kepadaNya)

Hanya tahu dan mengerti, bahwa Allah itu ada, Allah itu Esa, dan sebaginya tetapi tidak ada usaha untuk menyembahnya (Ibadah) kepadaNya, maka yang demikian sama sekali tidak bernilai “Ibadah” disisi Allah swt. Dan begitu pula sebaliknya, tekun dan giat melaksanakan aturn syari’at tetapi ia tidak tahu kepada siapa ia bersembah sujud (Ibadah) mengabdikan diri tersebut, maka yang demikian tidak dapat disebut ibadah pengabdian diri lagi, tetapi tidak lebih hanya sebuah perbuatan semata yng tidak memiliki arti dan manfaat, terutama kemanfaatan dikehidupan sesudah kematian nanti.

Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya sumber dari segala kerusakan yang terjadi, sebagai mana telah diuraikan sebelumnya adalah bersumber dari perintah hati yang tidak mengenal Allah sehingga hati yang demikian cenderung memberikan perintah kepada anggota badannya tanpa pertimbangan bahwa ia senantiasa dalam pengawasan Allah dan sebagainya sehingga ia cenderung menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tujuannya.

Imam Al-Ghozali Ra. Menerangkan dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, bahwa “hati” itu laksana medan peperangan antara bala tentara iblis dengan bala tentara malaekat, jika pertempuran tersebut dimenangkan oleh bala tentara iblis, maka hati yang demikian cenderung menentang apa-apa yang diperintahkan Allah dan sebaliknya bila bala tentara malaekat yang memenngkannya, maka otomatis hati tersebut akan memerintahkan hal-hal yang sesuai dengan perintah-perintah Allah dan membuat kerusakan, menghalalkan segala cara dan sebagainya adalah setengah dari pada perintah Allah untuk ditinggalkan.

Dan ketahuilah, sesungguhnya mereka yang akan memperoleh “keselamatan” dikehidupan sesudah kematian nanti adalah hanya mereka yang memiliki derajat “taqwa” disisi Alloh, dan derajat “taqwa” tersebut tidak akan tercapai tanpa malakukan “ibadah” atau pengabdian kepada Alloh, dan bukan “ibadah” namanya, bila didalam menjalankan perintah-perintah (syari`at) tersebut tanpa disertai “haqiqot” didalamnya (menjaga kelurusan niyat), sebab bila amalan syar`an tersebut dilakukan tanpa haqiqat didalamnya, maka yang demikian seperti orang yang sedang mengigau, (berbuat tapi tidak menyadari akan perbuatannya), atau sebaliknya menerapkan “haqiqot semata tanpa menjalankan “syari`at”nya, sebab yang demikian disebut “tamanni`” mengharapkan sesuatu tanpa usaha, seperti mereka yang mengharapkan gajian sedang ia dalam keadaan menganggur, dan “Tamanni`” tersebut adalah suatu hal yang dilarang oleh Alloh swt.

Dan ketahuilah, sesungguhnya “ibadah” itu adalah menyatunya syar`an dan haqiqot didalam perbuatan yang disebut dengan “amal”, dan ini seperti sebutan “lumpur”, maka lumpur tersebut adalah menyatunya “air” dengan “tanah”, ketika keduanya dipisahkan maka otomatis tidak dapat disebut lumpur lagi, tetapi hanya air dan tanah semata, begitupun dengan “ibadah” bila unsur penyusunnya dipisahkan, maka yang ada adalah “perbuatan atau syar`an” dengan “keyakinan atau iman” semata dan yang demikian itu bukan lagi “ibadah” namanya, yang dapat menjadi jaminan keselamatan pada kehidupan sesudah kematian nanti.

“Hatimu itu laksana gudang dimana didalamnya dapat engkau simpan berbagai pengetahuan yang engkau tangkap melalui panca indramu sedangkan fikiranmu itu hanyalah perencana yang dapat menyempurnakan pengetahuanmu itu”

BERSAMBUNG KE EDISI : 004
Fahamilah setiap edisi demi edisi nya agar tidak terjadi kesalahan didalam memahaminya
---------- “” ----------

Komentar

Postingan populer dari blog ini

1. PEMBUKAAN

6. TENTANG "PENTINGNYA MEMAHAMI ILMU-ILMU MA’RIFAT"