2. TENTANG 'BATAS KEMAMPUAN FIKIR DIDALAM MENGENAL ALLAH"

(Ketika engkau berfikir, apakah mungkin segala sesuatu itu menjadi ada tanpa ada yang mencipta? sesungguhnya engkau telah menggunakan fikiranmu itu sesuai dengan amanat yang menciptakanmu, dan sungguh pada akhirnya fikiranmu itu akan bermuara pada kesimpulan dimana engkau meyakini bahwa pasti ada sesuatu dibalik semua yang ada)

Seorang ahli filsafat dengan fikirannya berusaha berfikir dan berfikir dan ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membedah kebenaran dengan fikirannya tersebut, dengan harapan ia dapat menemukan sesuatu dibalik semua keberadaan alam raya ini, didalam fikirannya terdapat banyak sekali pertanyaan yang harus dijawabnya, dan pertanyaan-pertanyaan tersebut berkisar pada masalah Ketuhanan itu sendiri antara lain :

a. Mungkinkah semua yang ada di alam ini terbentuk dengan sendirinya (hanya proses alami) semata?

(Dan ketika engkau telah mampu menyimpulkan bahwa segala yang “ada” itu pasti ada yang mencipta, sungguh saat itulah keimananmu kepadaNya telah tertanam dihatimu, sebab engkau telah meyakini adanya sesuatu dibalik semua yang ada)

Disini ia (sang filsafat) tersebut merenung dan bertanya, “mungkinkah alam semesta raya ini ada (wujud) dengan sendirinya”, jika memang “ada yang mencipta” siapakah dia, sebab sungguh logika atau fikiran mereka itu tidak dapat menerima jika dikatakan bahwa adanya alam semesta ini wujud tanpa ada yang mencipta (membuat), sebab bagai mana mungkin sesuatu itu menjadi “ada” bila tanpa ada yang mencipta dan sebagainya.

b. Adakah sesuatu yang maha mengatur dibalik semua yang ada ?

(Segala sesuatu itu pasti ada asalnya, sebab bagaimana mungkin segala sesuatu itu menjadi ada tanpa ada awalnya)

Kemudian renungan itu berlanjut dan mereka mengambil satu i’tibar, seandainya sebuah benda dibelah menjadi dua, kemudian belahannya tersebut dibelah lagi menjadi dua, kemudian belahannya tersebut dibelah lagi menjadi dua dan seterusnya, apakah pada akhirnya akan ada satu bagian terkecil yang tidak mungkin dapat dibelah lagi?, dari i’tibar tersebut akhirnya mereka dapat menyimpulkan bahwa, pada akhirnya akan didapat bagian terkecil yang tidak mungkin dapat dibelah lagi dan ternyata secara teknologi (sain) ditemukan (dibuktikan) bahwa bagian terkecil tersebut adalah yang dinamakan “atom”
Dari pemikiran tersebut ia mengambil I’tibar terhadap asal dari setiap kejadian, sebab secara konsep sain (ilmu) dikatakan bahwa proses terjadinya sesuatu itu lebih cenderung dikatakan sebagai proses alam (alami), tetapi dalam konsep filsafat tersebut justru fikiran tersebut lebih tertarik untuk menyelidiki asal penciptaannya, sebab dalam pandangan filsafat tersebut manusia tidak mampu mencipta ia hanya memiliki kemampuan merubah dari satu bentuk kebentuk lainnya, dan dikatakan bahwa, hakikat mencipta itu adalah mengadakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada (dengan tanpa bahan baku).

c. Jika sesuatu itu memang “ada” siapakah Dia dan seperti apakah Dia ?

( keinginanmu untuk mengetahui “seperti apakah sesuatu yang maha mencipta tersebut” itu adalah setengah daripada tipu daya syetan yang masuk kedalam hatimu untuk mengalihkan dan menyesatkan jalan fikiranmu sehingga fikiranmu itu tersesat dari pandangan yang lurus.
ingatlah……….Pertama, bukankah sebuah boneka ciptaan itu tidak mungkin mampu memikirkan seperti apakah sesuatu yang telah menciptakannya tersebut, kedua bagaimana mungkin engkau dapat menyelidiki Tuhanmu, sedangkan menyelidiki asal usulnya angka satu saja engkau tidak mampu dan ketiga, bagaimana mungkin engkau dapat menyelidiki Tuhanmu sedangkan menyelidiki sesuatu yang ada didalam dirimu yaitu sesuatu yang membuatmu hidup (Ruh) saja engkau tidak mampu. renungkanlah………… )

Dari pemikiran tersebut diatas, kemudian ia berusaha membedah sesuatu yang ada dibalik semua yang wujud (yang ada) di alam semesta raya ini, sehingga pada akhirnya mereka dapat menyimpulkan bahwa dibalik semua yang ada tersebut pasti ada sesuatu yang telah mencipta, mengatur dan sebagainya, sebab segala sesuatu yang dalam pandangan ilmiah adalah alami (hanya proses alam) pada akhirnya semua akan bermuara kepada sesuatu yang bersifat ciptaan tanpa prose salami tersebut, sebagaimana halnya I’tibar tersebut diatas, yaitu i’tibar terhadap benda yang terus dibelah dan dibelah diatas (pengertian proses) yang pada akhirnya ditemukan satu bagian yang tidak dapat lagi dibelah (atom), kemudian i’tibar tersebut diumpamakan kepada proses penciptaan manusia misalnya, dimana manusia itu berasal dari air mani, dan air mani tersebut berasal dari sari pati makanan, dan sari pati makanan tersebut berasal dari tumbuhan yang tumbuh dibumi (tanah), dan seterusnya hingga proses tersebut terhenti pada sesuatu yang kami sebut dengan muaranya (seperti bagian yang sudah tidak dapat dibelah lagi) dan sesuatu yang menjadi muara tersebut itu tidak lagi memiliki asal seperti air mani yang berasal dari sari pati makanan dan sebagainya, sesuatu yang tidak memiliki asal tersebut pasti memiliki kemahaan “maha diatas segala yang maha”, tetapi sayangnya sampai disini pemikiran tersebut tidak mampu memberinya sebutan, sebab sebuah sebutan itu memiliki dua pengertian :

Pertama.

Sesuatu itu bersifat lebih dari satu, sehingga tanpa memberinya sebutan memungkinkan salah menyebut, seperti halnya sebutan yang diberikan kepada manusia dalam bentuk nama, ini dimaksudkan agar penyebutan itu terarah kepada seseorang yang dimaksud (tidak salah memanggil).
Sedangkan sesuatu yang tidak memiliki asal tersebut adalah pasti maha tunggal seperti halnya inti benda yang sudah tidak dapat dibelah lagi, Dia hanya satu (Esa) dan seandainya Dia disebut, pasti tidak akan terjadi kesalahan penyebutannya.

( Sungguh hanya sesuatu yang lebih dari satu itulah yang sesungguhnya membutuhkan sebutan )

Kedua.

Sesuatu yang dapat disebut tersebut itu menunjukkan bahwa sesuatu itu masih terbatas dan dapat dibatasi keadaannya baik wujudnya sifatnya maupun af’alnya, sedangkan sesuatu yang tidak memiliki asal tersebut pastilah sesuatu yang paling maha diantara yang paling maha dimana sifat kemahaannya tersebut tidak mungkin dapat dijangkau oleh apapun baik dengan fikiran maupun angan-angan, bahkan dikatakan seandainya seluruh angan-angan seluruh makhluk disatukan kemudian digunakan untuk mengandai-andaikan kemahaan sesuatu yang tidak memiliki asal tersebut, pastilah kemahaan yang sesungguhnya tersebut masih teramat sangat jauh dari titik kulminasi yang dicapai oleh angan-angan semua makhluk yang sudah disatukan tersebut.

Dikatakan sampai disini fikiran tersebut menjadi buntu untuk mengenal sesuatu yang tidak memiliki asal tersebut, dan ia tidak lagi mampu berjalan untuk mencapainya.

( Dan sebutanmu kepada sesuatu itu, menunjukan sesuatu yang sebut itu masih dapat engkau jangkau baik dengan fukiranmu ataupun angan-anganmu )

Maka sesungguhnya yang demikian itu adalah ujung atau penghabisan dari kemampuan fikir untuk membedah dan mencapai kebenaran (Al-Haq) dan ini sebagai mana disebutkan :

“sesungguhnya akal dan fikiran itu tidak akan mampu mencapai kebenaran kecuali dengan petunjuk”

Disaat fikiran tersebut kebingungan dan menemui jalan buntu, sesungguhnya manusia itu membutuhkan petunjuk, sehingga melalui petunjuk tersebutlah manusia itu akan dapat mengenal dan membangun hubungan kepada sesuatu yang maha diatas segala yang maha tersebut, sesuatu yang tidak memiliki asal adanya, bahkan manusia tersebut dapat menyebutnya melalui petunjuk yang diajarkan oleh Al-Qur’an bahwa sesuatu yang maha diatas segala yang maha tersebut disebut “Allah”, karena itulah kata “Allah” tersebut disebut lafzul Jalaalah adanya, kemudian setelah fikiran tersebut telah menyimpulkan bahwa pasti ada sesuatu dibalik semua proses yang bersifat alami tersebut, kemudian fikir itupun terus melontarkan pertanyaan yang semakin jauh “seperti apakah Allah” tersebut dan sebagainya,

dan ini dijelaskan seperti keterangan dalam sebuah hadist dan disebutkan bahwa :

“Tafakkaruu fil kholqi walaa tatafakkaruu fii zaatihi”
(fikirkanlah olehmu apa-apa yang diciptakan Allah, dan jangan kamu berfikir tentang Zat penciptanya)

( Andai tidak ada petunjuk dari Tuhanmu yang disampaikan melalui Rosul-rosulNya, pastilah fikiranmu itu tidak akan mampu memberikan sebutan kepada sesuatu yang maha mencipta tersebut walau engkau telah mampu mengambil kesimpulan sekalipun.
bukankah sebutan itu menunjukkan kepada sesuatu yang jumlahnya lebih dari satu? dan bukankah yang maha mencipta itu jumlahnya hanya satu dan tidak ada yang selainNya, dan bukankah sebutan itu menunjukkan kepada keterbatasan yang disebut? sedangkan Dia yang engkau sebut itu adalah sesuatu yang memiliki kemahaan diatas segala yang maha )

Hadist tersebut diatas jelas telah menunjukkan bahwa akal fikiran manusia tersebut tidak akan mampu mencapainya, sebab mungkinkah sebuah ciptaan akan mampu memikirkan seperti apakah penciptanya.

Kemudian jika dikatakan “ada sebuah boneka ciptaan yang dapat mengetahui seperti apa penciptanya” tersebut, tentu yang demikian akan bertentangan dengan akal fikiran (logika), maka begitu pula halnya dengan semua makhluk khususnya manusia, maka merekapun sama sekali tidak akan mampu memikirkan terlebih lagi untuk  mencapainya seperti apakah sesuatu yang telah menciptakannya tersebut, dengan demikian ini adalah sebuah kemustahilan bagi akal fikiran tersebut.

( Sungguh akal fikiranmu itu tidak akan pernah mampu mencapai Tuhanmu, dan sungguh tiada jalan bagimu untuk mencapainya kecuali engkau harus menghidupkan zauqiyahmu hingga engkau senantiasa syuhud kepadaNya dan Bagaimana mungkin engkau mengenal Allah dengan zauqiyyahmu itu jika engkau tidak berilmu, bukankah ilmu itu artinya mengetahui, lalu bagaimana mungkin engkau mengetahui jika sesungguhnya Tuhanmu itu senantiasa ada bersamamu, senantiasa mengawasimu jika engkau tidak berilmu (bodoh), oleh karena itu carilah ilmu walau jauh diujung dunia sekalipun )

Maka ketahuilah, bahwa untuk sampai pada haqiqat tersebut tiada jalan lain kecuali dengan menghidupkan zauqiyyah (bathiniyyah), sebab pada dasarnya setiap manusia itu baik laki-laki maupun perempuan semuanya memiliki factor bathiniyyah (Daya Bathin) yang sama, jika kemampuan memandang mata dhohir itu sangat terbatas, maka tidak dengan kemampuan pandangan mata bathin, begitu pula dengan pendengarannya, geraknya, kalimah-kalimahnya dan sebagainya.
Dikatakan bahwa pandangan mata dhohir itu sangat dibatasi oleh ruang dan waktu, ia tidak mampu melihat apa-apa yang ada dibalik dinding, ia tidak dapat melihat kemasa lampau atau masa yang akan datang dan sebagainya, tetapi tidak dengan kemampuan (daya) bathiniyyah tersebut, pandangannya tidak terhalang yang jauh bisa didekatkan, yang terhalang tersingkap, ia dapat melihat kemasa depan dan masa lalu, begitu pula geraknya, pendengarannya dan sebagainya.

Mohon maaf kami tidak bermaksud mengembang pembahasan ini, dan yang kami maksudkan adalah lebih mengarah kepada pembahasan mengenai cara (ilmu) untuk menghidupkan bathin tersebut, adapun hal-hal yang tersebut diatas adalah masalah (khoriqul aaddah) yang lebih bersifat kepada hal “mukasyafatul qulub”, dimana semua itu bukan tujuan yang sesungguhnya tetapi umumnya semua itu hanya merupakan impact dari akibat hidupnya bathiniyah tersebut, justru jika anda diberi kemampuan tersebut hendaknya harus lebih hati-hati lagi sebab semua itu adalah ujian yang berat bagi orang-orang yang menginginkan wushul ma’rifat kepadaNya dan banyak orang yang tergelincir (tidak lulus uji) manakala mereka mengalami hal yang demikian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

1. PEMBUKAAN

6. TENTANG "PENTINGNYA MEMAHAMI ILMU-ILMU MA’RIFAT"

3. TENTANG "KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU"