125. ILMU TAUHID EDISI 125

HUKUM SEBAB AKIBAT (HUKUM AKSI REAKSI) DALAM PERSPEKTIF ILMU TAUHID.

Dalam dunia ilmu pengetahuan (Sain), hukum sebab akibat ini lebih dikenal dengan dengan sebuatan “Hukum aksi reaksi” atau ada aksi pasti ada reaksi.

seperti halnya jika “makan”, pasti akan “kenyang”, maka yang menjadi hukum aksinya adalah “makan” sedangkan hukum reaksinya adalah “kenyang”nya, dan hukum aksi reaksi ini ada juga yang menyebutnya dengan hukum alam, dimana setiap aksi dan reaksi yang terjadi mereka katakana bahwa semua itu tidak lebih hanya sebuah proses dari alam itu sendiri.

Dalam konsep Keasaan Allah (lmu Tauhid), dikatakan bahwa setiap aksi dan reaksi yang terjadi, semua itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan ada sesuatu yang mengatur dan menetapkannya yaitu Allah swt.

Dikatakan bahwa pada haqiqatnya apapun yang selain Allah (semua ciptaan) yang disebut makhluk, semuanya tidak memiliki kemampuan apapun walau hanya sedikit sekalipun, jika diyakini bahwa makhluk itu memiliki kemampuan (untuk berwujud, bersifat serta beraf;al), otomatis yang demikian itu akan menjadi tandingan bagi wujud, sifat serta af’alNya Allah swt, sehingga akan menjadi dualism wujud, sifat serta af’al dan otomatis yang demikian itu akan menghapus sifat Keesaan Allah swt, sebab disatu sisi bahwa Allah itu berwujud, bersifat serta beraf’al tetapi disisi lain makhlukpun berwujud, bersifat serta beraf’al, dan ini melanggar konsep keesaan Allah itu sendiri.

Jika makhluk itu berwujud, itu tidak lebih sebab diwujudkan oleh Allah begitu pula dengan sifat dan af’alnya para makhluk itu sendiri, intinya semua yang selain Allah itu semuanya menjadi berwujud, bersifat serta beraf’al adalah tidak lain sebab diwujudkan, disifatkan serta diaf’alkan oleh Allah swt, dan sesuatu yang diwujudkan, disifatkan serta diaf’alkan itu haqiqatnya sama sekali tidak berwujud, tidak bersifat serta tidak beraf’al.

Hal ini seperti “bayi yang terlihat bisa berdiri sebab dipegangi”, pada haqiqatnya tidak ada bayi yang bisa berdiri tanpa dipegangi, tetapi ketika bayi tersebut dipegangi otomatis “bayi berdiri” itu menjadi “ada”, dengan demikian sesungguhnya dibalik “berdirinya” si bayi itu akan dapat disaksikan wujudnya orang yang memeganginya.

Jika hal ini difahami, maka otomatis didalam setiap wujudnya segala sesuatu selain Allah (makhluk) itu akan dapat disaksikan adanya Allah yang mewujudkannya, begitu pula didalam yang bersifat dan beraf’al adanya.

Jika wujudnya makhluk itu diwujudkan, sifatnya itu disifatkan dan perbuatannya (af’alnya) itu diberbuatkan (diaf’alkan), otomatis dapat diartikan pula bahwa segala sesuatu selain Allah itu haqiqatnya sama sekali tidak mampu memberikan manfaat dan mudhorot, sehingga apapun (al makhluk) itu tidak mampu memberikan manfaat seperti makanan itu tidak mengenyangkan, api itu tidak mampu membakar, cabai itu tidak mampu memberikan rasa pedas dan sebagainya.

Jika dikenal ada hukum aksi reaksi atau hukum sebab akibat seperti jika makan itu pasti kenyang, jika masuk kedalam api pasti terbakar dan sebagainya, semua itu sesunggunhnya berasal dari sifat “sabar” Nya Allah didalam menetapkan segala sesuatu yang selalu menyertakan “sebab” didalamnya, sehingga Allah itu selalu membakar sesuatu melalui api, Allah selalu menyembuhkan penyakit melalui obat, Allah selalu mengenyangkan perut melalui makanan dan sebagainya, sehingga kebanyakan manusia itu lalu menyangka hingga meyakini bahwa api itu mampu membakar, makanan itu mengenyangkan, obat itu menyembuhkan dan sebagainya dan mereka benar-benar melupakan irodah Allah yang senantiasa berlaku didalam setiap “aksi dan reaksi” yang terjadi tersebut.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa makluk apapun haqiqatnya sama sekali tidak mampu membahayakan ataupun memberi kemanfaatan melainkan Allah, amalan dan ilmu apapun itu tidak mampu menghantarkan pengamalnya pada kesadaran makrifat kepada Allah, pusaka apapun tidak memiliki tuah sedikitpun melainkan Allah yang memberikannya.

Sebagaimana telah difirmankan :

“Bismillaahil ladzii laa yadurru ma’asmihii syai’un fil ardhi walaa fis samaa’i wahuas samii’ul aliim”

(Dengan nama Allah tiada sedikitpun memberi manfaat dan mudhorot apa-apa yang ada dilangit dan dibumi melainkan atas izinNya, dan Dia (Allah) maha mengetahui segala sesuatu)

Jika hal ini difahami, maka ketika mengamalkan sesuatu apapun termasuk mengamalkan ilmu-ilmu yang notabenenya berhasiat menghantarkan wushul makrifat dan sebagainya, semua itu harus dikembalikan kepada Allah sebagai penentunya, dan ketahuilah “sebuah ilmu” apabila diamalkan (dilaksanakan) itu otomatis akan memiliki dua pengertian :

Pertama

Bahwa ilmu itu adalah hanya sebuah “sarana atau alat” dimana dengan alat itu Allah menjadikan sebab (perantara) bagi penggunanya (pengamalnya) dimana ketika alat tersebut digunakan (diamalkan) Allah akan memberikan keberhasilan pada pengamalnya tersebut sesuai dengan hasiat dan kegunaan dari ilmu itu sendiri.

Sebagaimana penjelasan diatas, maka untuk mewujudkan dan mencapai segala sesuatu itu sesungguhnya Allah swt. telah menyediakan berbagai macam sarana (alat) yang dapat digunakan demi tercapainya tujuan-tujuan tersebut yang kesemuanya itu bersumber dari sifat sabarNya Allah swt. seperti halnya ketika manusia itu bermaksud memotong sesuatu, maka sebagai sarananya mereka dapat menggunakan semacam pisau dan semacamnya, begitupun ketika para manusia itu bermaksud membakar, maka Allah telah menyediakan sarananya yang berupa api, yang intinya bahwa segala sesuatu yang diinginkan semua itu selalu disediakan sarana-sarananya sehingga melalui sarana-sarana tersebut para manusia itu dapat mewujudkan tujuan-tujuan yang diinginkannya.

Begitu pula halnya ketika para manusia itu menginginkan “wushul ma’rifat” kepadaNya, maka untuk mencapai tujuan tersebut Allah juga telah menyediakan sarana-sarananya yang berupa do’a-do’a, wirid, serta perangkat-perangkat pendukung lainnya.

Jika hal ini telah difahami, maka sesungguhnya do’a dan wirid itu tidak lebih hanya berfungsi sebagai sarana (alat) untuk mencapai tujuan tersebut, adapun penentu akhir dari sebuah keberhasilan tersebut adalah mutlak hanya Allah swt. sebab bila sifatnya sarana itu dihilangkan oleh Allah, pastilah ia tidak akan mampu memberikan hasil sesuai dengan harapan penggunanya, sebagaimana sifatnya api ketika dihilangkan saat digunakan membakar Nabi Ibrahim as, sehingga api yang seharusnya bersifat panas dan menghanguskan tetapi justru malah menyejukkan.

Kedua

Aurod (wirid) yang diamalkan (diistiqomahkan) itu berfungsi sebagai “do’a” dan sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menghantarkan wushul ma’rifat kepadaNya, sebab tidak ada satu aurod atau ilmu apapun yang ampuh melainkan diampuhkan oleh Allah swt dan sebagainya.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa “berdo’a” itu memiliki dua pengertian, yang pertama Do’a yang diucapkan secara langsung dan yang kedua adalah Do’a yang tidak diucapkan secara langsung.

Ketika permohonan itu diucapkan secara langsung dengan sambil menengadahkan tangan ataupun tidak kemudian hati ataupun lisan mengucapkan kalimat-kalimat permohonan sesuai yang dibutuhkannya, maka yang demikian itu adalah termasuk bagian dari do’a yang diucapkan secara langsung, kemudian ketika ada sebuah amalan tertentu yang berupa aurod-aurod yang memiliki hasiat dan keutamaan tertentu pula, kemudian aurod tersebut diamalkan, maka walaupun hasiat-hasiat itu tidak dimohonkan secara langsung otomatis semua itu telah menjadi bagian dari do’a itu sendiri, begitupun dengan berbagai macam usaha yang dilakukan termasuk usaha-usaha mencari karunia rizki seperti bekerja, berdagang dan sebagainya walaupun secara langsung keinginan untuk mendapatkan karunia rizki itu tidak diucapkan secara langsung, tetapi haqiqatnya otomatis yang demikian itu telah menjadi bagian dari do’a itu sendiri.

BERSAMBUNG KE EDISI 126
Fahamilah setiap edisi demi edisi nya agar tidak terjadi kesalahan didalam memahaminya
---------- “” ----------

Komentar

Postingan populer dari blog ini

1. ILMU TAUHID EDISI 001

20. ILMU TAUHID EDISI 020

2. ILMU TAUHID EDISI 002