124. ILMU TAUHID EDISI 124

HAQIQAT SHODAQOH DAN ANJURAN MEMPERBANYAKNYA

“liyunfiq zuu sa’atin min sa’atihi waman qudiro alaihi rizquhuu fal yunfiq mim maa aataahulloohu laa yukallifu nafsan illaa maa aataahaa sayaj’alalloohu ba’da usri yusroo (At-tholak 7).

(orang yang mampu hendaknya memberi nafkah sesuai dengan kemampuannya, dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya, Allah tidak memberikan beban melainkan sesuai dengan apa yang diberikan kepadanya, Allah akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan)

Jika engkau dikaruniai rizki yang jembar, hendaknya engkau didalam menafkahi keluargamu itu agar lebih banyak dari kebiasaanmu, dimana nafkah yang engkau berikan itu seimbang dengan banyaknya rizki yang engkau peroleh, sehingga semakin banyak rizki yang engkau dapatkan seharusnya semakin banyak pula nafkah yang engkau diberikan.

Tidaklah yang dimaksud rizki itu hanya dalam so’al materi, tetapi ia adalah melingkupi segala hal yang merupakan bentuk pemberianNya yang selalu berada didalam naungan rahmatNya.
Jika engkau sungguh-sungguh sadar kepada Tuhanmu, pastilah Tuhanmu akan melimpahkan karunia rizki kepadamu, dimana hatimu itu laksana mata air yang tiada henti-hentinya mengeluarkan ilmu dan hikmah, maka nafkahkanlah apa-apa yang keluar dari hatimu itu kepada semua orang disekitarmu”

Maksudnya, kalau dikaruniai rizki yang jembar supaya didalam menafkahkan kepada keluarga dan amal-amal kebaikan supaya lebih banyak yaitu seimbang dengan banyaknya rizki yang diperolehnya, dengan demikian semakin banyak rizki yang didapatnya harus semakin banyak pula nafkah yang diberikannya.
Dari keterangan tersebut diatas terdapat dua istilah, yaitu “al-waashiluuna ilaihi” dan “as-saa’iruuna ilaihi” maksudnya orang mempunyai banyak kejembaran dan keluasan serta keringanan mengeluarkan infaq dari apa yang diperolehnya adalah orang yang sudah wushul sadar ma’rifat kepada Allah swt, orang yang mempunyai banyak kemampuan dalam so’al bathiniyyah adalah orang yang sudah wushul ma’rifat tersebut.

“ay isyaarotan ilaa haalil waashiliina ilaihi ta’alaa, fa’innahum lammaa khorojuu min sijni ru’yatil aghyaari ilaa qodhoo’it tauhiidi wakamaalil istibshoorit tasa’at masaafatu nadhrihim wa’ufiido alaihim uluumun wa’isroorun ilaahiyyatun fashooruu yamud duunal ghoiro wayatashor rofuuna fii awaalimihimil baatinati kayfa syaa’uu”

Orang yang sudah wushul ma’rifat kepada Allah tersebut, oleh karena mereka telah terbebas dari pengaruh hawa nafsu dan mereka telah terjun kedalam lautan tauhid serta sudah sadar dan sebagainya, otomatis menjadi luas pandangannya, pandangannya luas tidak terdinding (tidak terhalang) dan tidak terpengaruh oleh apapun sebab mereka selalu mendapat sorotan berbagai macam ilmu dan rahasia-rahasia ketuhanan, maka mereka dapat menolong orang lain untuk membebaskan diri dari pengaruh hawa nafsu, untuk menjadi orang yang sadar ma’rifat kepada Allah swt, dan mereka yang sudah wushul tersebut memiliki kemampuan menguasai keadaan bathin orang lain, yaitu keadaan yang menjadi sifat-sifatnya hati atau nafsu, dan keadaan bathin tersebut ada yang bersifat kasar dan ada yang bersifat halus.

Seperti “ingin makan” yang demikian juga termasuk keadaan bathin, keinginan itu tumbuh setelah terpengaruh oleh keadaan fisik atau oleh keadaan luar, dengan demikian ingin ini dan ingin itu  dinamakan keadaan bathin, ingin dihormat, ingin membalas dendam dan sebagainya juga dinamakan keadaan bathin tersebut.

Orang yang telah sadar kepada Allah tersebut dikatakan selalu dapat menguasai keadaan bathinnya terutama keadaan bathin yang negative, sehingga ia dapat mengarahkan keadaan bathin yang negative tersebut untuk kepentingan yang diridhoi Allah dan bila ternyata keadaan bathin yang negative tersebut sudah tidak dapat diarahkan dan dimanfaatkan dan sebagainya maka ia dapat membunuhnya dengan cara tidak mengikuti apa-apa yang diinginkan oleh keadaan bathin yang negative (hawa nafsu) tersebut, sehingga keadaan bathin yang semestinya merugikan tersebut berubah menjadi menguntungkan dan sebagainya.

Maka jika dikatakan bahwa mereka yang sudah sadar ma’rifat kepada Allah tersebut mereka itu mampu mengendalikan keadaan bathin orang lain, yang demikian itu maksudnya adalah mereka dapat mengawasi keadaan bathin orang lain kemudian mengarahkan keadaan bathin orang lain tersebut dari negative menjadi positif, sehingga keadaan bathin orang yang diawasi tersebut menjadi terbebas dari pengaruh hawa nafsu yang negative tersebut, atau dapat dikatakan bahwa orang yang telah sadar tersebut dapat membimbing dan mengarahkan orang lain untuk kembali sadar kepada Allah swt, dari keadaan bathin  berakhlaq bejad menjadi berakhlaqul karimah dan sebagainya.

Maka oleh karena mereka itu telah memiliki kemampuan yang luas, maka kemampuan itu harus dimanfaatkan dan digunakan sebagai mana mestinya sebab kemampuan itu adalah nikmat dari Allah swt, bila nikmat itu tidak dimanfaatkan sebagai mana mestinya berarti tidak mensyukuri nikmat dan barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat otomatis kelak ia akan mempertanggung jawabkannya.
Sayyidina Ali pernah ditanya “adakah keistimewaan khusus yang diberikan Rosululloh saw kepadanya”, kemudian jawabnya “didalam al-qur’an dan hadis hanya beberapa saja, tetapi yang tidak pernah putus-putusnya adalah tanazzul baatini (kitabulloh al-baathini)”, dengan demikian ilmu yang dhohir itu amat terbatas sekali demikian kata sayyidina Ali karromalloohu wajhah dimana prinsip-prinsipnya atau yang pokok-pokoknya ada didalam al-qur’an dan hadis tersebut, tetapi yang tidak terbatas itu adalah “fuyuudlur Robbaaniyyah” yaitu berupa pancaran-pancaran Ilaahiyyah yang senantiasa memancar kepadanya sehingga beliau tersebut memiliki kemampuan yang banyak.

Maka ketahuilah, sesungguhnya pancaran-pancaran ilahiyyah atau fadhol Allah tersebut setiap saat, setiap detik senantiasa memancar kepada seluruh ummat manusia tetapi hanya mereka yang mau membuka hatinya (bathinnya) saja yang akan dapat menerimanya, hal ini seperti cahaya yang di pancarkan oleh matahari, semua dikatakan akan menerima cahaya tersebut selagi mereka mau berada ditempat terbuka tetapi bila mereka menutup diri menghindarinya dengan berteduh ditempat  yang terhalang, maka otomatis mereka tidak akan mendapat pancaran sinar matahari tersebut, maka begitupun dengan mereka yang tidak mau menerima pancaran-pancaran cahaya ilahiyyah tersebut, mereka diibaratkan berteduh dibawah naungan hawa nafsu sehingga hatinya terselimuti oleh tebalnya dinding dan atap hawa nafsu tersebut yang menyebabkan mereka tidak mendapatkan pancaran cahaya ilahiyyah tersebut.

Barang siapa yang terkena pancaran ilahiyyah tersebut, otomatis hatinya selalu sadar kepada Allah dan menjadi Abdulloh (hamba Allah), sebaliknya mereka yang tidak terkena pancaran ilahiyyah tersebut otomatis mereka jauh dari kesadaran (ma’rifat) kepada Allah dan senantiasa menjadi Abdun Nafsi (Hamba Nafsu).

” waman qudiro alaihi rizquhuu “as-saa’iruuna ilaihi”

Yang dimaksud dalam al-qur’an “waman qudiro alaihi rizquhu fal yunfiq mimmaa aataahu…”  pada awalnya adalah so’al harta benda, so’al rumah tangga, otomatis yang dimaksud dan menjadi mukhotobi dalam penjelasan ini adalah yang dimaksud kepala rumah tangga, maka ketika mengalami kejembaran dianjurkan jangan terlalu irit tetapi bila mengalami keadaan sempit otomatis harus seadanya.

Maka ketahuilah, didalam penjelasan ini semua itu dikatakan sebagai isyarah, dan yang dimaksudkan “mengalami kesempitan” adalah mereka yang masih berada dibawah pengaruh hawa nafsu, masih dipengaruhi hal-hal lahiriyyah dan sebagainya, maka sekalipun masih dikuasai oleh hawa nafsu jika memiliki kemampuan harus terus berusaha membebaskan diri dari pengaruh-pengaruh hawa nafsu tersebut dengan riyadhoh dan mujahadah disamping mengingatkan yang lain (orang lain) untuk melakukan hal sama seperti apa yang ia lakukan tersebut.

Dikatakan bahwa mereka yang masih berada dibawah pengaruh hawa nafsu tersebut otomatis pandangan bathinnya masih terbatas, mereka masih mengandalkan perhitungan-perhitungan didalam usahanya (usaha membebaskan diri) dari pengaruh hawa nafsu tersebut, berbeda dengan mereka yang sudah sadar ma’rifat kepada Allah, mereka telah menguasai alam ghoibiyyah atau alam fuyuudhootiyyah.

“ihtadar roohiluuna ilaihi bi’anwaarit tawajjuhi wal washiluuna lahum anwaarul muwaajahah”

Dikatakan bahwa, mereka yang sedang berjuang tersebut harus memiliki lampu tawajjuh atau cahaya tawajjuh yang disebut mujahadah atau riyadhoh, maka mereka yang sedang usaha mencapai kesadaran ma’rifat kepada Allah tersebut harus menggunakan lampu atau cahaya tawajjuh tersebut dengan memperbanyak mujahadah atau riyadhoh-riyadhoh dan sebagainya, sebab dikatakan bahwa ingin memperoleh kesadaran tetapi tidak usaha (tidak riyadhoh dan mujahadah) maka yang demikian dikatakan tidak mungkin, seperti berharap panen tetapi tidak pernah bercocok tanam, atau seperti berharap gajian tetapi tidak pernah bekerja dan sebagainya.

Begitupun dengan mereka yang menginginkan kesadaran ma’rifat tersebut, mereka harus usaha dan disini disebut “anwaarut tawajjuh” maksudnya memperbanyak berdepe-depe dihadapan Allah, merasa lemah, merasa banyak dosa, merasa dholim, merasa kotor yang sekotor-kotornya dihadapanNya, senantiasa memenej (memimpin) hatinya, mengarahkannya dan sebagainya, ibarat orang yang sedang belajar naik sepeda pasti ia akan mengalami jatuh bangun dan sebagainya tetapi dikatakan jangan pernah menyerah sebab pada akhirnya iapun akan mampu menaiki sepeda tersebut dengan terampil, begitu pula usaha menuju kesadaran ma’rifat kepada Allah, hatinya harus dimenej (dipimpin), harus dilatih dan sebagainya ketika lupa segera kembalikan dan seterusnya disamping terus meningkatkan mujahadah (kesungguhan) dan riyadhoh dan berzikir dan sebagainya.

“Wal ladziina jaahaduu fiinaa lanah diyan nahum subulanaa” (Al-ankabut 69)
(dan orang-orang yang bersungguh-sungguh menuju kepadaKu pasti Aku tunjukkan jalanKu)

Barang siapa yang bersungguh-sungguh mengusahakan kesadaran kepada Allah, pasti Allah akan menunjukkan kepadanya jalannya.

Tetapi dikatakan bahwa “wal waashiluuna lahum anwaarul muwajjahah” orang yang sudah sadar kepada Allah dikatakan telah menguasai “cahaya muwajjahah” atau memiliki “nur muawajjahah” atau telah sadar kepada Allah swt atau syuhud kepadaNya.

Maka golongan pertama tadi, wushulnya itu disebabkan dengan mujahadah atau tawajjuh (menghadap) yaitu dengan memperbanyak mujahadah dan riyadhoh, memperbanyak amal-amal ubudiyah lainnya, tapi bagi mereka golongan “waashiluuna” mereka sudah sadar kepada Allah, mereka telah memiliki nur cahaya muwajjahah atau sudah muwajjahah (bertatap muka).

Maka “anwaarut tawajjuh” dan “anwaarul muwajjahah”  keduanya disebut “Nur” padahal keduanya tidak menunjukkan kepada pengertian Nur itu sendiri dan merupakan kata-kata majazi, yang demikian itu menurut tata bahasa arab dinamakan “min idhofatil bayaaniyyah” maksudnya yang dimaksud “Nur” itu adalah tawajjuh atau muwajjahah itu sendiri dan yang demikian itu “min baabil majaaz” ini disebabkan karena mereka itu mendapatkan hidayah (cahaya kesadaran) tersebut disebabkan karena telah memperbanyak tawajjuh itu sendiri dalam bentuk zikir dan mujahadah, sedangkan mereka yang telah sadar ma’rifat kepada Allah dikatakan bahwa mereka itu telah muwajjahah.

“fal awwaluuna lil anwaari wahaa’ulaa’il anwaaru lahum”

Oleh karena golongan pertama tadi memperoleh ridho Allah disebabkan mujahadahnya, otomatis mereka itu dikatakan masih mengandalkan mujahadahnya (dikuasai mujahadahnya) artinya mereka masih merasa bahwa mujahadahnya tersebut memiliki kemampuan untuk mendapatkan ridho Allah swt, tetapi golongan yang kedua yaitu mereka yang telah mencapai wushul ma’rifat kepada Allah swt, mereka sama sekali tidak mengandalkan mujahadah-mujahadahnya atau zikir-zikir dan riyadhohnya dan bukan berarti mereka yang sudah wushul tersebut mereka tidak lagi melakukan riyadhoh, berzikir ataupun mujahadah dan sebagainya, tetapi semua itu dilakukan murni hanya untuk melaksanakan perintah Allah, tidak mengharap dan tidak bertujuan kepada apapun selain Allah swt, dan didalam melakukannya (melakukan riyadhoh, berzikir ataupun mujahadah dan sebagainya) mereka itu tidak merasa mampu dengan kemampuan diri, melainkan senantiasa bersama Allah (syuhud Billah).

Tetapi dikatakan bahwa meskipun sudah sadar ma’rifat kepada Allah seperti tersebut diatas harus tetap diakui dimana ia merasa sama sekali belum sadar, sebab sekali ia merasa bahwa ia telah sadar ma’rifat kepada Allah, sesungguhnya ia itu termasuk orang-orang yang belum sadar ma’rifat kepadaNya, intinya jangan pernah bosan mengoreksi diri, melakukan muhasabah dan sebagainya.

“wamaa ubar ri’u nafsii innan nafsa la’ammaarotum bis suu’i (yusuf 53)
(saya tidak jemu-jemu mengoreksi nafsu karena nafsu itu selalu mengajak kepada hal-hal yang negative)

Dikatakan bahwa nabi Yusuf As itu tidak pernah bosan melakukan koreksi diri agar beliau tidak terjebak kedalam perangkap hawa nafsu, jika seorang Nabi yang ma’sum tersebut masih memerlukan koreksi diri, maka bagai mana mungkin manusia biasa pada umumnya justru mengabaikannya, yang demikian merupakan satu isyarah bahwa untuk mencapai kesadaran ma’rifat tersebut didalamnya harus memperbanyak muhasabah diri (koreksi diri) tersebut.

“wahaa’ulaa’il anwaaru lahum li’ann nahum lil laahi laa lisyai’in duunahuu, qulil laahu tsumma zarhum fii haudihim yal’abuun”

Maka yang pertama tadi, karena mereka belum sadar kepada Allah otomatis mereka itu masih dikuasai oleh “maa siwalloh” apa-apa selain Allah, masih dikuasai oleh mujahadahnya, masih mengandalkan dan masih terpengaruh kepada usahanya tersebut.

“qul lil laah” ay tawajjah ilaihi walaa tamil ilaa anwaarin walaa ghoirihaa”
(bertawajjuhlah (menghadaplah) hanya kepada Allah dan jangan pernah condong (jangan terpengaruh) oleh nur dan lainnya”

Dikatakan jangan pernah berharap kepada Nur, lebih-lebih berharap untuk mendapatkan nikmat-nikmat akhirat, jangan takut kepada bahaya-bahaya dunia terlebih lagi bahayanya akhirat dan sebagainya, semua ini bukan berarti tidak boleh berkeinginan (berharap) dan tidak boleh takut dan sebagainya melainkan semua harapan dan keinginan serta takut tersebut semua harus didasari niat yang murni hanya untuk melaksanakan perintah Allah serta melakukannya selalu disertai kesadaran kepadaNya dan sebagainya.

“fa’ifroodut tauhiidi ba’da fanaa’il aghyaari hua haqqul yaqiini, waru’yatu maa siwalloohi haudun wala’ibun wazaalika min sifaatil mahjuubiina”

Mengesakan Allah, mentauhidkanNya semua itu harus memfana’kan, harus menghapus makhluk dari pandangan bathin (zauqiyah), jika melihat makhluk hanya sampai pada makhluk itu saja otomatis Tuhan tidak kelihatan oleh bathinnya dan ini dikatakan belum sadar, tetapi jika yang ada hanya Allah dan yang lainnya tidak ada maka yang demikian dikatakan telah sadar ma’rifat kepada Allah swt. “waru’yatu maa siwalloohi haudun wala’ibun”, masih terpengaruh oleh makhluk termasuk oleh badannya sendiri, ini dinamakan “haudun wala’ibun” dan yang demikian masih tidak tepat sebab yang demikian itu merupakan sifatnya orang-orang yang hatinya terhijab untuk memandang kepada Allah.

“tasyaw wufuka ilaa maa bathona fiika minal uyuubi khoirum min tasyaw wufika ilaa maa hujiba anka minal ghuyuub”
(keinginanmu untuk mengetahui so’al-so’al negative yang ada didalam dirimu, itu lebih baik dari pada keinginanmu untuk mengetahui hal-hal yang gho’ib)

Maka usaha untuk mengetahui keburukan-keburukan yang ada didalam diri, tahu dan menyadari bahwa dirinya senantiasa ujub, senantiasa riyak, senantiasa takabbur, senantiasa mengikuti keinginan hawa nafsu, senantiasa pamrih (masih mengharap yang lain selain Allah) dan sebagainya, kemudian setelah mengetahuinya harus segera menghapusnya.

Kemudian dikatakan bahwa jika so’al ghoib (tahu sebelum terjadi), tahu keadaan hati orang lain, tahu hal-hal yang akan datang dan sebagainya dikatakan yang demikian tidak menjadi suatu keharusan malah semua itu bisa merugikan sebab akan sangat mungkin disalah gunakan, tetapi jika memang diberi keistimewaan seperti itu maka harus dimanfaatkan dan jangan sampai disalah gunakan, menjadi takabbur dan hanya digunakan untuk kepentingan hawa nafsu.

“illaa alaa yadi syaikhin kaamilin naashihin”

Kecuali mereka yang berada dibawah bimbingan seorang syekh yang kamil (guru mursyid) yang selalu memberinya nasihat-nasihat dan sebagainya.

“kun thoolibal istiqoomati walaa takun thoolibal karoomati”
(carilah keistiqomahan dan janganlah mencari kekeramatan atau karomah).

Untuk itu carilah keistiqomahan (keteguhan) terutama keteguhan dalam hal bathiniyyah yaitu istiqomah memurnikan niyat hanya untuk Allah dalam segala apapun yang dilakukan (hal yang bersifat positif) dan selalu berusaha sadar kepada Allah didalam segala apapun yang dilakukan dan sebagainya, adapun lahiriyahnya yang demikian juga sekuat mungkin harus diistiqomahkan terkecuali bila ada hal-hal yang lebih penting dari sesuatu yang diistiqomahkan tersebut, dengan demikian keistiqomahan tersebut lebih kepada hal yang bersifat bathiniyyah, tetapi jika keistiqomahan dalam bidang lahiriyyah itu masih dapat ditunda oleh sesuatu yang bersifat lebih penting dan sebagainya.

Adapun “karomah” atau kekeramatan, semua itu hanya ujian bagi mereka yang gigih mengistiqomahkan bathiniyah mereka, jika tidak lulus uji maka otomatis keadaannya menjadi merosot dari sebuah cita-cita yang luhur, karena itu jangan pernah mencari dan mengejar kekeramatan (kekaromahan).

BERSAMBUNG KE EDISI 125
Fahamilah setiap edisi demi edisi nya agar tidak terjadi kesalahan didalam memahaminya
---------- “” ----------

Komentar

Postingan populer dari blog ini

1. ILMU TAUHID EDISI 001

20. ILMU TAUHID EDISI 020

2. ILMU TAUHID EDISI 002