123. ILMU TAUHID EDISI 123

TANDA-TANDA USAHA YANG SELALU SUKSES.

“min alaamatin najhi fin nihaayatir rujuu’u ilalloohi fil bidaayaati”
(setengah dari pada tanda-tandanya akan berhasil pada akhirnya, dimana ia senantiasa kembali kepada Allah pada permulaannya).

jika engkau sungguh-sungguh sadar dimana engkau menyadari keinginanmu itu untuk melakukan ini dan itu bukan semata-mata kemampuanmu tetapi sebab fadhol dan dorongan dari Tuhanmu yang ditanamkan dihatimu kemudian didalam melaksanakan apa-apa yang engkau usahakan itu, dimana engkau senantiasa sadar bahwa tiadalah engkau melakukannya melainkan bersama Tuhanmu, pastilah apa-apa yang engkau usahakan itu selalu memperoleh kecemerlangan dan keberhasilan terutama disis Tuhanmu

Bukankah telah dikatakan :

“maa tawaqqofa math labun anta thoolibuhu birobbika”

(apapun yang diperjuangkan dan diusahakan itu bila selalu disertai tawakkal (jiwa yang menyerah) terhadap kekuasaan Allah didalamnya, kemudian engkau selalu meminta pertolongan hanya kepadaNya, pastilah usahamu itu  tidak akan menemui jalan buntu, tidak akan pernah menemui hambatan, pasti berhasil dan engkau akan mendapatkan  ridhoNya Allah wa Rosulihi saw)

Ini masih merupakan kelanjutan dari penjelasan tentang “maa tawaqqofa math labun anta thoolibuhu birobbika” maka apapun yang diperjuangkan, diusahakan bila dengan disertai tawakkal (jiwa yang menyerah) terhadap kekuasaan Allah, kemudian meminta pertolongan kepadaNya dan sebagainya, otomatis usaha yang demikian tidak akan menemui jalan buntu, tidak akan menemui hambatan dan pasti berhasil serta mendapat ridho Allah wa Rosulihi saw.

“min alaamatin najhi fin nihaayatir rujuu’u ilalloohi fil bidaayaati”

Maka setengah dari pada tandanya usaha itu akan berhasil dengan cemerlang  yaitu pada permulaan melangkah dalam usaha tersebut senantiasa pasrah, senantiasa tawakkal, senantiasa menyerah kepada Allah, senantiasa memohon pertolongan kepada Allah swt, dan tidak mengandalkan dan membanggakan kepada kemampuannya, tidak mengandalkan kepada usahanya, tidak mengandalkan kepada ibadahnya, tidak mengandalkan kepada perhitungannya dan sebagainya, jadi senantiasa “ar-rujuu’u ilalloh”, sebaliknya usaha yang pada permulaannya selalu mengandalkan dan membanggakan kepada kemampuannya, mengandalkan kepada usahanya, mengandalkan kepada ibadahnya, mengandalkan kepada perhitungannya dan sebagainya, maka usaha yang demikian pasti akan mengalami kerugian tetapi ia tidak merasa.

Jika hal ini telah difahami, hendaknya didalam mengusahakan apapun yang sesuai dengan aturan syara’ seperti usaha untuk memperbaiki keadaan ekonomi, berdagang, bekerja dan sebagainya, juga usaha untuk menggapai dan memperoleh kesadaran ma’rifat kepada Allah swt dan sebagainya, hendaknya semua itu harus diawali dengan niat yang murni hanya karena Allah dan didalam melaksanakan usaha tersebut jangan mengandalkan pada kemampuan diri, mengandalkan makhluk dan sebagainya jadi harus hanya mengandalkan Allah dalam segala hal, maka jika usaha tersebut dilakukan dengan cara-cara tersebut pastilah tidak akan menemui kerugian dan pasti akan cemerlang pada akhirnya.


“man asyroqot bidaayatuhuu asyroqot nihaayatuhuu”
(barang siapa yang cemerlang pada awalnya, pasti akan cemerlang pula pada akhirnya).

Cemerlang itu bersinar dimana engkau menjalankan amal-amal ibadah itu dengan giat dan sungguh-sungguh ikhlas penuh tawakkal, pasrah menyerah hanya kepada Allah swt. Tuhanmu……

Sungguh ketika engkau usaha (ibadah) dimana engkau berusaha untuk mendekatkan dirimu kepada Allah Tuhanmu, kemudian engkau berusaha wushul ma’rifat kepadaNya, sungguh jika usahamu itu  sudah bersinar pada awalnya, pastilah pada akhirnya juga akan bersinar pula, dimana tercapainya wushulmu (ma’rifat) kepada Allah Tuhanmu itu

Maka begitu pula dengan usaha (ibadah) untuk mendekatkan diri kepada Allah, berusaha wushul ma’rifat Billah wa Rosulihii saw, bila usaha tersebut sudah bersinar pada awalnya, maka otomatis pada akhirnya pun akan bersinar pula yaitu tercapainya wushul ma’rifat kepada Allah tersebut.

Kemudian dikatakan bahwa :

“mastauda’a fii ghoibis saroo’iri dhoharo fis syahaadatiz zhoaahiri”
(barang yang tersimpan didalam hati itu akan dapat terlihat dengan jelas dari sikap dhoriyahnya).

Sungguh siapapun orang yang telah memiliki mental kususnya mental kesadaran ma’rifat yang baik kepada Allah (Tuhannya), pastilah itu akan mempengaruhi sikap dan tindakan lahiriyyahnya dimana apa-apa yang dilakukannya senantiasa dapat menunjukkan kepada jalan kesadaran kepadaNya terutama ucapannya itu selalu mengandung mutiara dari hikmah-hikmah yang tersembunyi
Jika engkau bertemu dengannya, maka berkawanlah engkau kepadanya sebab didalam memilih dan menentukan kawan dalam pergaulan itu sungguh akan sangat berpengaruh terhadap kepribadianmu sendiri.

Seseorang yang memiliki mental yang baik, otomatis mempengaruhi sikap dan tindakan lahiriyyahnya dan menjadi baik pula, seperti disabdakan oleh Nabi saw :

“inna fil jasadi lamudghotan iza sholuhat sholuhal jasadu kulluhuu wa’izaa fasadat fasadal jasadu kulluhuu alaa wahiyal qolbu” (al-hadis).

(sesungguhnya ada segumpal daging didalam tubuh, apabila ia baik maka menjadi baik seluruh tubuh, apabila ia buruk maka menjadi buruk pula seluruh tubuh, ketahuilah itulah hati)

Dengan demikian didalam memilih dan menentukan kawan dalam pergaulan, maka baik dan buruknya seseorang yang akan dijadikan kawan tersebut dapat dilihat dari keadaan lahiriyyahnya, jika lahiriyahnya jelek otomatis keadaan bathinnya jelek dan sebaliknya, tetapi ada juga yang lahiriyahnya jelek tetapi sesungguhnya bathinnya baik dan sebaliknya lahirnya baik tetapi bathinnya jelek dan umumnya semua itu karena ada alasan-alasannya.

“syat taana baina man yastadillu bihii au yastadillu alaihi”

(jauh sekali perbedaan antara orang yang menjadikan Allah sebagai penunjuk kepada Makhluk dengan orang yang menjadikan makhluk sebagai penunjuk kepada Allah Tuhannya).
Jika engkau telah mampu memandang Allah sebagai penunjuk untuk menunjukkan kepada makhluk, sungguh engkau termasuk dari mereka  “hum min ahlis syuhuud” yang senantiasa sadar kepada Allah sebab engkau senantiasa hanya menemukan Allah didalam keberadaan setiap makhluk, dan keadaanmu itulah sebagaimana disebut kan ”al majzuubuuna ilaihi humul murooduuna” (mereka adalah orang-orang yang dijazab (ditarik) oleh Allah)

“wal istid laalu alaihi min adamil washli ilaihi” Jika engkau masih menjadikan makhluk sebagai penunjuk untuk menunjuki kepada adanya Allah, itu menunjukkan bahwa engkau belum sadar (belum ma’rifat kepadaNya), bukankah telah disampaikan keterangan kepadamu “man arofa nafsahuu arofa robbahuu” (barang siapa yang kenal dirinya, maka sungguh ia mengenal Tuhannya).

Bukankah keberadaan dirimu itu hanyalah makhluk, dimana jika Allah tidak menyertai wujudmu, sifatmu juga af’almu pastilah wujud dan sifat serta af’almu itu tidak akan pernah ada (wujud) dan alangkah jika begitu, alangkah jelasnya Tuhanmu itu didalam dirimu sendiri dan andai engkau telah mengenal dirimu, pastilah engkau akan membalik keterangan itu menjadi “man arofa robbahuu arofa nafsahuu” (barang siapa yang tahu Tuhannya, ia tahu dirinya) sebab engkau telah menjadikan Tuhanmu sebagai penujuk kepada makhluk dimana engkau senantiasa syuhud menyaksikan Allah Tuhanmu itu didalam dirimu dan didalam keberadaan semua makhluk”.

Mereka adalah “hum min ahlis syuhuud” yaitu mereka para ahli syuhud yang senantiasa sadar kepada Allah dan mereka senantiasa hanya menemukan Allah didalam keberadaan setiap makhluk. “immab tidaa’an wa’immaa ba’das suluuk” baik pada permulaan suluk maupun setelah suluk, yaitu pada permulaan disaat melakukan riyadhoh-riyadhoh (mujahadah-mujahadah) maupun setelah melakukan riyadhoh-riyadhoh (mujahadah-mujahadah) itu sendiri dan dikatakan bahwa mereka itulah “wahumul aarifuun”, merekalah orang-orang yang telah mencapai kesadaran ma’rifat kepada Allah tersebut yaitu mereka para murooduun atau aarifuun atau majzuubuun, mereka tidak memandang apapun selain hanya memandang kepada Allah.

Adapun mereka yang masih menjadikan makhluk sebagai penunjuk kepada Allah, mereka itulah yang dikatakan “man yastadillu alaihi” yaitu mereka yang masih memandang makhluk untuk dijadikan sebagai bukti (dalil) terhadap adanya Allah dan mereka itu dikatakan masih belum sadar kepada Allah, mereka masih terus berusaha menggapai keadaan seperti yang dialami oleh keadaannya mereka para murooduun atau aarifuun atau majzuubuun tersebut diatas.

“fa’ahlulloohi ta’aala alaa qismaini muroodiina wamuriidiina”

Maka ahlulloh tersebut dibagi menjadi dua, yaitu “muroodiin” dan “muriidiin”, maka Muroodiin adalah orang-orang yang berkehendak atau orang yang berkeinginan, atau istilah lain majzuubiin yaitu orang-orang yang sadar kepada Allah sebab dijazab oleh Allah swt dan merekalah min ahlil syuhud (ahli memandang Allah), sedangkan “muriidiin” adalah orang-orang yang masih dalam usaha mencapai sadar ma’rifat kepada Allah agar mereka dapat seperti para majzuubiin tersebut diatas, dan para muriidiin tersebut juga biasa disebut dengan istilah “saalikun”.

Para muriidiin atau saalikun tersebut dikatakan bahwa hati mereka masih dipengaruhi oleh hawa nafsu sehingga mereka belum sadar kepada Allah, yang mereka ketahui hanya makhluk dan usaha untuk mencapai kesadaran ma’rifat tersebut juga masih mengandalkan makhluk yaitu makhluk dalam bentuk riyadhoh-riyadhoh (mujahadah-mujahadah) yang dilakukannya sehingga mereka masih merasa bahwa riyadhoh-riyadhoh (mujahadah-mujahadah) yang dilakukannya memiliki kemampuan untuk menghantarkannya pada kesadaran seperti kesadarannya para majzuubin diatas, namun demikian dikatakan bahwa apa yang mereka lakukan tersebut sudah baik sebab sudah memiliki keinginan untuk sadar kepada Allah swt. Adapun murooduun atau majzuubuun tersebut dikatakan :

“wal muriiduuna wahumul majzuubuuna wa’ajahahumul haqqu ta’aala biwajhihil kariimi wata’arrofa ilaihim fa’arofuuhu wan hajabta anhumul aghyaaru fahum yastadil luuna bihii alaihaa fii haala tad liihim in juzibub tidaa’an au ba’da suluukihim in kaanuu min ahlihii”

Bahwa Allah memandang kepada mereka itu dengan biwajhihil kariim (dengan wajahNya) yang mulia, dan Allah menampakkan diri kepada mereka sehingga mereka mengenalnya, mata hati mereka tertutup melihat makhluk hati mereka hanya melihat Allah, mereka senantiasa membuat Allah untuk menunjukkan kepada makhluk, dan hal ini berlawanan (kebalikan) dari muriiduun tadi yang masih membuat makhluk untuk membuktikan adanya Allah.

Ada istilah “tadalli” yang berarti “turun” dan ada istilah “taroqqi” yang berarti “naik”, dikatakan bahwa mereka para muroodun dan majzuubun adalah orang-orang yang telah berada pada puncak kesadaran kemudian ketika mereka turun dari hadhrotillah dan kembali ketengah-tengah makhluk (masyarakat), mereka menjadikan Allah sebagai penunjuk kepada makhluk artinya mereka sadar kepada Allah terlebih dahulu kemudian baru sadar kepada makhluk dan mereka tahu kepada makhluk sebab Allah sebab mereka selalu menyaksikan (syuhud) kepada Allah didalam keberadaan makhluk itu sendiri, sedangkan para muriiduun atau saalikuun, mereka belum sadar kepada Allah dan kesadaran mereka kepada Allah tersebut sebab adanya makhluk dengan kata lain makhluk tersebut dijadikan bukti adanya Allah, dan keberadaan makhluk tersebut dijadikan dalil terhadap adanya Allah tersebut.

Maka mereka yang diberi kesadaran ma’rifat kepada Allah tersebut dengan tanpa riyadhoh, tanpa mujahadah dan sebagainya tersebut dinamakan dijazbu (dijazab) atau ditarik oleh Allah dan yang demikian ada adanya tetapi dikatakan amat jarang terjadi, dikatakan :

“a’dhomun naasi jazbal anbiyaa’i wal mursaliin”

Yang paling banyak mendapat jazbu (tarikan) tersebut adalah dari golongan para Nabi dan Rosul dan itu jarang sekali terjadi, umumnya untuk mendapatkan kesadaran tersebut harus berjuang seperti para muriiduun dan saalikuun dengan riyadhoh dan mujahadah, tetapi dikatakan bahwa sesungguhnya usaha dengan riyadhoh dan mujahadah tersebut adalah merupakan tarikan (jazbu) dari Allah swt kepada hamba-hambaNya yang terpilih, sebab tidak semua orang terbuka hatinya untuk meniti jalan kesadaran tersebut, kemudian dikatakan :

“walizaa qiila nihaayatus saaliki bidaayatul majzuubi”
(maka dikatakan, titik akhir dari para saalikun tersebut merupakan titik awal bagi para majzuubiin)

Dengan demikian para salikun yang sudah mencapai tingkatan terbebas dari pengaruh hawa nafsunya, merupakan titik permulaan baginya merasakan kesadaran seperti kesadaran yang dimiliki oleh mereka yang dijazbu (majzuubiin), dan dikatakan :

“nihaayatul majzuubi bidaayatus saaliki”
Orang yang majzub (ditarik) dengan tanpa mujahadah dan riyadhoh tersebut, pada akhirnya juga akan usaha dan mujahadah dan sebagainya untuk menjaga kesadarannya tersebut agar tidak hilang dari jiwanya,

dan dikatakan juga :

“wawaroda : a’dhomun naasi jazban illan biyaa’u wal mursaluuna”
(yang paling besar ditariknya adalah para anbiya’ wal mursaliin)

Otomatis makin tinggi kedudukannya, makin besar menariknya dan seterusnya, dan disebutkan :

“wazaalika annal mustadilla bihii arofal haqqo li’ahlihii fa’atsbatal amro min wujuudi ashlihii wal istid laalu alaihi min adamil wasli ilaihi wa’illaa famataa ghooba hattaa yastadilla alaihi wamataa ba’uda hataa takuunal aatsaru hia tuushilu ilaihi”

Para muriidun atau salikuun tersebut dikatakan otomatis mereka itu belum sadar kepada Allah, mereka masih menjadikan makhluk untuk menujukki kepada Allah, sehingga mereka menganggap bahwa makhluk itu mampu menunjukkan kepada Allah, masih menganggap makhluk itu ada, makhluk itu memiliki kemampuan untuk menghantarkan dirinya untuk sadar ma’rifat kepada Allah swt.

Adapun mereka para majzuubiin (orang yang telah sadar) kepada Allah, mereka menjadikan Allah sebagai penunjuk kepada makhluk, dikatakan inilah yang benar, Allah itu adalah sumber dari segala yang maujud, para majzuubin tersebut telah mampu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, sebab Allah itu sumber atau asal segala yang maujud (pencipta) dan Allah itu adalah wujud pertama, mereka dapat menempatkan Allah pada tempat (kedudukan) sebenarnya.

“fa’atsbatal amro min wujuudi ashlihii” Makhluk itu sungguh dianggap ada karena ada asalnya yaitu dari Allah swt. dan sesungggguhnya pula   bahwa segala sifat itu pasti ada atsarnya (bekasnya), jika engkau memiliki sifat penyayang pastilah ada sesuatu yang engkau sayangi, dan sungguh Kholiq itu pasti ada makhluknya, sifat kasih sayang pasti ada yang dikasihi dan disayangi, sifat adilNya Tuhanmu pasti ada yang diadili.

Jika begitu bukankah dirimu dan semua makhluk itu adalah atsar dari sifatNya Allah Tuhanmu, sungguh jika engkau tidak menyadarinya dimana hatimu itu telah disesatkankan Allah disebabkan engkau lebih memilih mengikuti hawa nafsumu, ingatlah akan firman Tuhanmu “man yudh lilillaahu falaa haadiya lahuu” (al-a’rof 186) (barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada sesuatupun yang mampu menunjukkannya)”

Dikatakan bahwa Allah menghancurkan, Allah menyesatkan dan sebagainya justru itu adalah setengah dari pada keadilan Allah (sifat adilNya), istilah “adil” bermacam-macam, adil itu bisa berarti “menyama ratakan” tetapi bisa juga “adil” itu berarti “tidak menyama ratakan” dan tidak menyama ratakan itu justru adil dan sebagainya.

Jika semua orang laki-laki dan permpuan, besar maupun kecil dan sebagainya semuanya disama ratakan disuruh mencangkul dikebun, maka yang demikian tidak adil, melihat dari sisi ini maka “tidak menyama ratakan” itulah justru yang adil.

Jika ini difahami, maka Allah menghancurkan, Allah menyesatkan, Allah membahagiakan dan sebagainya justru itulah keadilan tersebut, dan adil itu sendiri merupakan kebalikan dari “dholim” yaitu menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, sedangkan “adil” itu menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Maka yang paling ditakuti oleh orang-orang yang sadar ma’rifat kepada Allah tersebut adalah sifat adilNya Allah swt tersebut, dikatakan bahwa neraka itu hanya akibat dari sifat adilNya Allah dan neraka itu hanya atsarnya (bekasnya) dari sifat adil tersebut, maka bagi mereka yang telah sadar kepada Allah tersebut justru sifat adilNya Allah itulah yang paling ditakutinya sebab sifat adil tersebut merupakan pokoknya (intinya) sedangkan neraka hanya bekasnya (atsarnya) walaupun bagaimana dahsyatnya neraka tersebut dan otomatis inti atau pokok itu jauh lebih besar efeknya dari pada sekedar atsarnya, dan inilah yang dinamakan “Naarul Bi’aad” yaitu neraka jauh dari Allah (tidak sadar) kepadaNya.

Jika Allah itu menghancurkan, kemudian Allah itu menyesatkan dan sebagainya maka itulah adalah setengah dari pada keadilan Allah (sifat adilNya), sebab “adil” itu justru memiliki bermacam-macam pengertian, dimana adil itu bisa berarti “menyama ratakan” tetapi bisa juga diartikan bahwa “adil” itu berarti “tidak menyama ratakan” tetapi terkadang justru dengan tidak menyama ratakan itulah keadilan itu  dan sebagainya.
Andai semua orang itu laki-laki dan permpuan, besar maupun kecil dan tua maupun muda, dewasa ataupun anak-anak dan sebagainya jika semuanya disama ratakan dimana mereka itu semuanya disuruh mencangkul dikebun, justru yang demikian itu tidak adil, sehingga “tidak menyama ratakan” itulah justru yang adil.
Jika ini difahami, sesungguhnya jika Allah itu menghancurkan, Allah menyesatkan, Allah membahagiakan dan sebagainya justru itulah keadilanNya.
Jika engkau memiliki banyak benda, pastilah semua benda itu berada dalam kekuasaanmu, engkau dapat membuangnya saat engkau bosan, atau engkau dapat merawatnya dengan baik saat benda itu menarik bagimu, semua dapat engkau perlakukan sesuka hatimu sebab semua itu adalah milikmu.
sungguh “adil” itu merupakan kebalikan dari “dholim” dimana dholim itu adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, sedangkan “adil” itu justru menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Sungguh yang paling ditakuti oleh mereka yang telah mencapai kesadaran ma’rifat itu adalah “sifat adilNya” Allah, adapun neraka itu hanya akibat dari sifat adilNya Allah dimana ia hanyalah atsarnya (bekasnya) dari sifat keadilanNya itu, sehingga bagi mereka yang telah sadar kepada Allah tersebut justru sifat adilNya Allah itulah yang paling ditakutinya sebab sifat adil itu merupakan pokoknya (intinya) sedangkan neraka hanya bekasnya (atsarnya) walau bagaimanapun dahsyatnya neraka itu, justru sesuatu yang menjadi inti atau pokok itulah yang memiliki efek jauh lebih besar dari pada sekedar atsarnya, dan inilah yang dinamakan “Naarul Bi’aad” yaitu neraka jauh dari Allah (tidak sadar) kepadaNya.

Kemudian disebutkan :

“wal istid laalu alaihi min adamil washli ilaihi”

Dikatakan mereka yang masih menjadikan makhluk sebagai penunjuk untuk menunjuki adanya Allah dikatakan mereka itu belum sadar (belum ma’rifat kepada Allah),

Dan dikatakan ;

“Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu”
(barang siapa yang tahu siapa dirinya, pasti dia tahu kepada Tuhannya)

ketika engkau tahu bahwa dirimu adalah makhluk, pasti ada yang mencipta, pasti bersamaan dengan keberadaan dirimu itu engkau senantiasa menemukan Allah didalam dalam keberadaan dirimu sendiri.
jika engkau bercermin, maka jangan pusatkan perhatianmu kepada cerminnya, niscaya cermin tersebut akan menghalangimu untuk menemukan bayangan didalamnya, tetapi pusatkanlah perhatianmu pada sesuatu yang ada didalamnya, niscaya keberadaan cermin itu akan hilang dari perhatian dan pandanganmu dan yang engkau temukan itu hanya bayangan yang ada didalamnya
sesungguhnya dirimu, sifatmu serta perbuatanmu itu hanyalah laksana cermin, jika engkau memandangnya dengan pandangan kesadaran (Bii), niscaya ia akan hilang dari pendanganmu dan engkau hanya akan menemukan Al-Haq didalam dirimu sendiri, dan begitu pula bila engkau memandang yang selain dirimu, hendaknya caramu memandang itu sama seperti engkau memandang dirimu sendiri.
untuk itulah dikatakan bahwa “sesungguhnya Allah itu lebih dekat dari urat nadimu” (al hadits qudsi) dan sebagai mana pula dikatakan bahwa, “Fal asy yaa’u kulluhaa majaali wamadhoohiru” (maka segala sesuatu itu, semuanya adalah merupakan tempat yang dari tempat itulah Allah dapat diketahui dengan jelas)

Yang demikian dikatakan bahwa dirinya tersebut dijadikan penghantar untuk sadar ma’rifat kepada Allah, yang demikian karena ia belum sadar ma’rifat kepada Allah tersebut (Tadalli), kemudian dikatakan :

“man arofa robbahuu arofa nafsahuu”
(barang siapa yang tahu Tuhannya, ia tahu dirinya)

Keadaan ini adalah bagi mereka yang telah sadar ma’rifat kepada Allah (taroqqi) dimana ia menyaksikan (syuhud) kepada Tuhan (Allah) didalam dirinya sendiri.

Jika semua ini telah dimengerti, maka sudah seharusnya usaha atau berjuang untuk mencapai kesadaran tersebut selalu diusahakan dan jangan berkata bahwa manusia itu tidak mampu dan sebagainya karena sesungguhnya manusia itu telah diberikan kemampuan tersebut, tugas manusia itu hanya berusaha dan terus berusaha adapun berhasil atau tidaknya itu adalah urusan Allah dan itu adalah masalah yang gho’ib dan hanya Allah yang mengetahuinya (berhasil atau tidaknya), sebagai mana firmanNya :

“wal laziina jaahaduu fiinaa lanahdiyann nahum subulanaa” (al-ankabut 69)
(barang siapa yang sungguh-sungguh, pasti Allah menunjukkan jalannya)

Dan disebutkan juga :

“ud’uunii astajib lakum”
(berdo’alah kamu sekalian niscaya Aku kabulkan”

BERSAMBUNG KE EDISI 124
Fahamilah setiap edisi demi edisi nya agar tidak terjadi kesalahan didalam memahaminya
---------- “” ----------

Komentar

Postingan populer dari blog ini

1. ILMU TAUHID EDISI 001

20. ILMU TAUHID EDISI 020

2. ILMU TAUHID EDISI 002