122. ILMU TAUHID EDISI 122

KEKERUHAN HIDUP ADALAH SIFATNYA DUNIA

“laa tastaghrib wuquu’al aqdaari maa dumta fii haazihid daar”

Jangan pernah engkau menganggap ganjil terhadap adanya kekeruhan-kekeruhan (permasalahan-permasalahan) yang engkau alami selama engkau menjalani kehidupanmu didunia yang fana’ ini, sungguh selama engkau masih berada didunia ini pastilah engkau akan mengalami berbagai macam permasalahan itu sedikit atau banyaknya,
Bukankah sudah dikatakan :

“fa’innahaa maa abrozat illaa maa hua mustahiqqun wasfuhaa wawaajibun na’tuhaa”
(sungguh semua permasalahan-permasalahan itu sudah menjadi sifat dan pembawaan dunia)
.
Jika engkau sungguh memahaminya, maka janganlah engkau buang-buang waktumu itu hanya untuk mencari kesenggangan dan terbebas dari berbagai permasalahan hidup dimana engkau berharap dapat menemukan hidup yang enak tanpa adanya permasalahan yang menyertaimu, sungguh kehidupan ini harus engkau jalani dengan segala permasalahan-permasalahannya,
bukankah sudah disampaikan

“man tholaba maa lam yukhlaq at’aba nafsahuu walam yurzaq ar-roohatu fid duniaa”

(barang siapa yang mencari sesuatu yang tidak pernah diciptakan Allah, itu hanya sia-sia (membuat cape tenaga dan fikiran) dan tidak akan ditemukan yaitu ingin enak dan puas didunia).

Diperingatkan, jangan sampai menganggap ganjil ataupun menganggap janggal terhadap adanya kekeruhan-kekeruhan (permasalahan-permasalahan) yang dialami selama menjalani kehidupan didunia yang fana’ ini, sebab selama masih berada didunia ini pasti akan mengalami berbagai macam permasalahan tersebut sedikit atau banyaknya pasti setiap orang akan mengalaminya, permasalahan so’al moril, soal ekonomi, so’al kekuasaan, dan perso’alan-perso’alan yang lainnya baik secara langsung ataupun tidak langsung, kemudian dikatakan

“fa’innahaa maa abrozat illaa maa hua mustahiqqun wasfuhaa wawaajibun na’tuhaa”

Sebab semua permasalahan-permasalahan tersebut itu sudah merupakan sifat dan pembawaan dari dunia, hidup didunia adalah permasalahan (kekeruhan) dan tidak mungkin ada orang yang hidup didunia ini sama sekali tidak mengalami kekeruhan tersebut, hidupnya selalu enak dan sebagainya, yang demikian dikatakan hal yang tidak mungkin, berkata Syekh Ja’far Shodiq :

“wamin kalaami ja’faris shoodiq rodhiyalloohu anhu : man tholaba maa lam yukhlaq at’aba nafsahuu walam yurzaq qiila lahuu wamaa zaaka? Qolar roohatu fid duniaa”
(barang siapa yang mencari sesuatu yang tidak pernah diciptakan Allah, itu hanya sia-sia (membuat cape tenaga dan fikiran) dan tidak akan ditemukan kemudian Syekh Ja’far Shodiq ditanya, apakah sesuatu yang tidak pernah dicptakan Allah tersebut?, yaitu ingin enak dan puas didunia)

“Oleh karena itu jangan pernah engkau mencari kesenangan selama engkau masih berada didunia ini, sebab Tuhanmu tidak pernah menciptakannya, lalu…. mungkinkah engkau akan mendapatkannya sementara ia tidak pernah ada, sungguh kesenangan dan ketenangan itu hanya ada bersama Tuhanmu, jika engkau sungguh-sungguh ridho atas apa-apa yang diberlakukan Tuhan atas dirimu, pastilah ketenangan dan kesenangan itu akan senantiasa menyertaimu”

Dengan demikian hidup didunia itu tidak mungkin akan menemui enak kepenakan dan kepuasan, kesenggangan, terbebas dari berbagai permasalahan dan sebagainya, maka mengusahakan untuk mendapatkan semua itu adalah suatu hal yang mustahil, Cuma buang-buang waktu.

“fayam baghii lil muriidis shoodiqi an laa yaltafita lizaalika wayajidda fis sairi hattaa tatlu’a alaihi syamsul ma’rifati fayan mahiya anhu wujuudul aghyaari watazuulu anhul akdaaru bimusyaahadtil aziziizil ghoffaari”

Jika demikian sudah seharusnya segenap perhatian dalam hidup ini jangan dicurahkan hanya untuk mengusahakan sesuatu yang tidak diciptakan tersebut, justru kehidupan didunia ini harus terus dijalani dengan segala kekeruhannya, dengan segala lika likunya, dengan segala rintangannya dan sebagainya, dan setengah dari pada diciptakannya sifat dunia yang demikian tersebut adalah agar mereka dapat sadar dan kembali kepadaNya sebagai mana difirmankan :

“fafirruu Ilallooh” (kembalilah kepada jalan Allah).

Maka untuk mendapatkan ketenangan hidup tersebut, sungguh tidak ada jalan lain kecuali dengan banyak mengingat Allah (berzikir), dimana dengan zikir tersebut jiwa akan dapat masuk kedalam Hadhrotulloh, kalau sudah berada dihadhrotulloh tersebut, otomatis “fayun mahaa anhu wujuudul aghyaari” bila  sudah berada dihadhrotulloh, otomatis semua permasalahan-permasalahan dan kekeruhan hidup akan lenyap dan berganti dengan suasana cemerlang sebab adanya sinar cahaya “matahari ma’rifah kesadaran kepada Allah” dan ia senantiasa syuhud kepadaNya, senantiasa sadar bahwa Allah itu maha luhur, maha ghoffar, maha pengampun dan sebagainya.

Bila sudah berada dihadapan Allah tersebut, maka hilanglah segala kekeruhan-kekeruhan tersebut, kenapa? Karena mereka yang telah berada dihadapan Allah tersebut mereka senantiasa merasa puas, senantiasa ridho’, kepada Allah apapun yang ditetapkan dan diberlakukan atas mereka, bahkan dirugikan sekalipun oleh Allah mereka tetap ikhlas dan ridho karena yang membuatnya seperti itu adalah Allah yang maha ro’uf, maha rohim dan sebagainya.

Sebaliknya, mereka yang belum hadir kehadhrotulloh adalah mereka yang belum sadar kepadaNya (kepada Allah), meskipun kehidupan mereka dipenuhi oleh harta yang berlimpah, hidupnya serba lux, dan sebagainya justru semakin melimpah kehidupannya tersebut akan semakin banyak kekeruhan-kekeruhan yang dialaminya tersebut, kenapa? Mereka yang semakin banyak hartanya, semakin banyak dunianya itu umumnya semakin pusing hidupnya, sebab mereka harus memikirkan bagai mana caranya agar hartanya tersebut semakin bertambah dan bertambah dan semakin banyak, belum lagi mereka harus memikirkan keamanannya agar hartanya tersebut aman, tidak disalah gunakan oleh pegawainya dan sebagainya yang intinya semua itu semakin membuat hidupnya keruh dan penuh perso’alan, dan sesungguhnya mereka itu tidak menyadari bahwa harta yang mereka kumpulkan tersebut hampir tidak ada waktu bagi mereka untuk menikmati harta tersebut, sebab waktu-waktu yang dilaluinya umumnya akan habis hanya untuk memikirkan kekeruhan-kekeruhan tersebut, memikirkan bagaimana memajukan usahanya dan sebagainya, hidupnya dipenuhi rasa tidak aman serta selalu dihiasi ketakutan yaitu takut kehilangan apa-apa yang sudah dimilikinya, kemudian dikatakan :

“waman dakholahuu kaana aaminaa” (al-imron 97).
(dan barang siapa yang mau masuk kedalamnya (kedalam makom Ibrahim), pastilah ia aman)

“Bukanlah yang dimaksud maqom Ibrahim itu melainkan “maqom khillah” (maqom kekasih) dan sungguh jika engkau masuk kedalamnya, pastilah “kaana aaminaa” engkau aman didalamnya, sebab engkau akan senantiasa disayangi dan dikasihi oleh Tuhanmu, dimana engkau senantiasa ridho dan ikhlas atas apapun yang diberlakukan Tuhanmu atas dirimu”

Maka maqom Ibrahim yang sesungguhnya itu adalah bukan maqom (tempat) yang ada didekat ka’bah, tetapi “maqom khillah” atau “maqom kekasih” karena Ibrahim itu adalah kholilulloh (kekasih Allah), dan tempat yang ada didekat ka’bah itu hanya sebuah gambaran atau sebuah tanda, maqom yang sesungguhnya itu adalah maqom khillah tersebut.

Maka dikatakan bahwa, barang siapa yang masuk kemaqom Ibrahim (maqom khillah) tersebut, “kaana aaminaa” pasti ia aman, karena siapapun yang berada di maqom tersebut otomatis mereka itu senantiasa dikasihi dan disayangi oleh Allah swt, dan sesungguhnya aman dan tidak aman tersebut adalah dari Allah swt.

Jika hal ini telah difahami, maka sudah seharusnya semua itu direnungkan kemudian melakukan koreksi diri, sebab mungkin banyak kekeruhan-kekeruhan yang sedang dialami seperti kekeruhan dalam so’al ekonomi, dalam so’al harta yang berlimpah, dalam so’al politik dan sebagainya yang intinya membuat jiwa menjadi tidak tenang, tidak aman dan sebagainya, maka jika tidak secepatnya mengungsi ketempat yang aman, niscaya akan mengalami penyesalan yang tiada akhir. Maka mereka yang telah mengungsi ke maqom khillah tersebut, meskipun lahiriyyahnya kelihatan serba kekurangan dan sebagainya tetapi bathinnya tetap ridho dengan apa yang diberikan Allah kepadanya, begitu pula dengan mereka yang hidupnya dipenuhi dengan kelimpahan harta dan sebagainya mereka sama sekali merasa tidak memiliki harta tersebut, yang mereka tahu bahwa semua harta tersebut adalah titipan dan milik Allah, dan justru mereka itu semakin berhati-hati didalam memanfaatkan harta tersebut agar didalam menggunakannya tersebut sesuai dengan perintah yang memilikinya yaitu Allah swt, kemudian dikatakan :

“maa tawaqqofa math labun anta thoolibuhu birobbika walaa tayas saro math labun  anta thoolibuhuu binafsika”

Tidak akan menemui jalan buntu, tidak akan menemui hambatan terlebih lagi menemui kegagalan seseorang yang memperjuangkan apa-apa yang diperjuangkannya selama ia memperjuangkannya tersebut selalu kembali kepada Allah (perjuangannya tersebut selalu diawali niat yang murni hanya karena Allah dan didalam melaksanakannya senantiasa sadar kepadaNya) sehingga perjuangannya tersebut otomatis bernilai ibadah pengabdian diri kepadaNya dan bukan semata-mata bertujuan untuk mendapatkan apa-apa yang ia perjuangkan tersebut.

Maka mereka yang berjuang mengusahakan apa-apa yang mereka usahakan seperti diatas tersebut, otomatis mereka itu selalu tawakkal (bathinnya menyerah kepada Allah), mereka sadar bahwa usaha atau perjuangan yang mereka lakukan tersebut hanya menjalankan perintah Allah, sementara berhasil atau tidaknya semua itu urusan Allah,

“Jika engkau sungguh-sungguh beriman, sebuah “hasil” yang engkau dapati selama engkau masih berada didunia ini sebab engkau telah berusaha dengan sungguh-sungguh itu hanyalah sebuah bonus keuntungan yang diberikan Tuhanmu, keuntungan yang sesungguhnya adalah dimana kelak engkau akan menerima ganjaran berupa pahala disisiNya, lalu adakah kerugian yang mungkin akan dialami orang-orang beriman? jika engkau menganggap orang beriman itu masih mengalami kerugian, itu menunjukkan masih dangkalnya keyakinanmu sebab setiap kebaikan yang dilakukan oleh orang beriman itu pasti mendapat ganjaran (pahala) disisi Tuhannya walaupun lahiriyahnya mengalami kerugian justru itulah keuntungan terbesar baginya disisi Tuhannya dimana ia senantiasa ridho dengan apa-apa yang diberikan Tuhan kepadaNya”

maka dikatakan bahwa usaha yang demikian itu tidak akan mengalami semacam kegagalan dan kerugian, sebab meskipin secara lahiriyyahnya mereka itu gagal, tidak berhasil dan sebagainya, justru itulah yang sesungguhnya paling menguntungkan bagi mereka disisi Allah pada yaumul qiyamah nanti, dan sebaliknya usaha yang tidak didasari kembali kepada Allah (perjuangannya tersebut tidak diawali niat yang murni hanya karena Allah dan didalam melaksanakannya tidak dengan kesadaran kepadaNya) otomatis usaha yang demikian untuk memenuhi kepentingan hawa nafsu, dan usaha yang demikian itu pasti akan selalu mengalami kegagalan, meskipun secara lahiriyyahnya apa-apa yang diperjuangkannya tersebut selalu berhasil dan sebagainya, tetapi sesungguhnya semua yang dihasilkannya tersebut kelak akan menjerumuskan mereka sendiri dan menjadi bencana bagi mereka kelak disisi Allah pada yaumul qiyamah nanti dan dikatakan :

“walaa tayas saro math labun  anta thoolibuhuu binafsika”

Mereka yang tidak sadar itu, mereka selalu mengandalkan kemampuannya didalam berjuang dan berusaha, merasa diri mereka itu mampu dan sungguh mereka litu engah kepada Allah Tuhannya bahwa sesungguhnya ia senantiasa dimampukan oleh Allah Tuhannya, sehingga ketika berhasil didalam usahanya itu mereka menjadi berbangga diri dan menjadi sombong dan ketika gagal mereka lalu berputus asa, pesimis dan sebagainya.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu hanya berharap kepadaNya, tetapi kenapa kamu malah menyandarkan harapanmu itu kepada sesamamu”

Kemudian dikatakan :

“faman anzala haqaa’ijahuu billaahi wan najaa’a ilaihi watawakkala fii amrihii kullihii alaihi kafaahu kulla mu’natin waqor roba alaihi kulla ba’iidin wabasyaro lahuu kulla isyiirin”
(maka barang siapa yang menyandarkan dan mendasarkan bermacam-macam hajatnya hanya kepada Allah (sadar kepadaNya), hanya mengharap rahmat karunia dariNya, dan menyerahkan segala urusannya hanya kepadaNya, pastilah Allah akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman, mendekatkan apa-apa yang jauh dan memudahkan apa-apa yang sukar).

BERSAMBUNG KE EDISI 123
Fahamilah setiap edisi demi edisi nya agar tidak terjadi kesalahan didalam memahaminya
---------- “” ----------

Komentar

Postingan populer dari blog ini

1. ILMU TAUHID EDISI 001

20. ILMU TAUHID EDISI 020

2. ILMU TAUHID EDISI 002