121. ILMU TAUHID EDISI 121

TENTANG “BERDO’A”

“Tuhanmu memerintahkan kamu untuk selalu berdo’a kepadaNya, tetapi kenapa kamu melakukannya bukan atas dasar melaksanakan perintahNya dan malah menuntutnya agar do’a dan permohonanmu itu dikabulkan”
“Renungkanlah…………kewajibanmu itu hanyalah melaksanakan perintah-perintah Tuhanmu sedangkan hasil (ijabah) itu adalah urusan Tuhanmu, jangan engkau campur adukkan antara hak dan kewajibanmu, Laksanakanlah kewajiban-kewajibanmu dan jangan pernah kamu memikirkan haq-haqmu, sebab apa-apa yang menjadi haqmu itu adalah kewajiban Tuhanmu”
Dan disebutkan bahwa :

“tholabuka minhu intihaamun lahu”

Dikatakan bahwa memohon kepada Tuhan (berdo’a) itu dapat berarti menuduh atau tidak percaya kepada Allah bahwa sesungguhnya Allah itu maha pengasih serta maha penyayang, bahwa Allah itu maha memberi meskipun tanpa diminta sebab Allah itu telah menanggung mencukupi semua rizki makhluk-makhluknya termasuk manusia, dan berdo’a itu juga dapat diartikan bahwa Allah tidak mengetahui keadaan orang yang berdo’a atau memohon itu.

Jika orang itu betul-betul yakin kepada Allah, ia yakin bahwa Allah itu maha rohman dan rohim, maha mengetahui keadaan makhluk bahkan Allah itu maha lebih mengetahui keadaan makhluk tersebut dari pada makhluk itu sendiri, maka orang itu tidak membutuhkan permohonan dan do’a

Maka mereka yang menuduh dan tidak percaya kepada Allah tersebut bahwa sesungguhnya Allah itu maha pengasih, maha penyayang, maha memberi, maha mengetahui segala keadaan yang dialami dan dibutuhkan semua makhluk dan sebagainya ketika mereka berdo’a tersebut adalah mereka yang berdoa memohon sesuatu kepada Allah untuk memenuhi keinginan hawa nafsunya, maka ingin kemudahan dalam segala hal, ingin memiliki harta yang berlebih, ingin selalu sehat, ingin…. Ingin…. Ingin…. Dan seterusnya, sesungguhnya semua itu adalah keinginan hawa nafsu, kemudian ia memohon (berdo’a) kepada Allah agar keinginannya tersebut segera dipenuhi, tanpa mereka sadari sesungguhnya mereka itu telah memperalat Allah untuk memenuhi keinginan hawa nafsunya tersebut, maka berdo’a yang demikian itulah yang memiliki arti tuduhan serta ketidak percayaan kepadaNya bahwa Allah itu maha pengasih dan penyayang dan sebagainya, sebab do’a-doa yang mereka panjatkan tersebut selalu didasari oleh hawa nafsu semata, sehingga berdo’a yang mereka lakukan tersebut sudah keluar dari tuntunan berdo’a yang dituntunkan.

Adapun berdo’a yang dituntunkan tersebut adalah berdo’a yang dilakukan semata-mata atas dasar melaksanakan perintah Allah, sebagai mana firman Allah :

“ud’uunii astajib lakum”
(berdo’alah kalian kepadaKu, pasti Aku ijabahi)

Ayat tersebut diatas berisi perintah, yaitu perintah untuk banyak berdo’a, sehingga jika berdo’a tersebut dilakukan selalu atas dasar melaksanakan perintah Allah dan bukan dilakukan atas dasar kebutuhan dan sebagainya, maka otomatis berdo’a tersebut akan bernilai ibadah disisi Allah, dengan demikian berdo’a itu yang dimaksudkan adalah berdo’a lil ibadah bukan berdo’a lil ijaabah, dan mereka yang berdo’a lil ijaabah itulah yang memiliki arti bahwa mereka itu haqiqatnya telah menuduh Allah bahwa Allah itu tidak pengasih dan penyayang dan sebagainya, tetapi jika berdo’a tersebut dilakukan lil ibadah (untuk melaksanakan perintah Allah), otomatis akan bernilai ibadah (pengabdian disisi Allah).

kemudian didalam ayat tersebut terdapat janji Allah yang berupa pengabulan terhadap do’a-do’a yang dimohonkan, maka sesungguhnya janji-janji tersebut adalah mutlak urusan dan hakNya Allah, sebab Allah memiliki hak untuk memberikan sesuatu kepada siapapun yang dikehendakinya walaupun tanpa diminta sekalipun karena sesungguhnya Allah itu sudah maha tahu apa-apa yang dibutuhkan oleh makhluk-makhlukNya tersebut, tetapi sebagai orang yang beriman sudah seharusnya harus percaya dan yaqin terhadap kebenaran janji-janji Allah tersebut tetapi jangan sampai berdo’a tersebut diikuti oleh tuntutan kepadaNya untuk mengabulkan permintaan-permintaannya dan jika ini terjadi otomatis ia bukan sedang berdo’a tetapi sedang menuntut, yang demikian adalah kekeliruan didalam berdo;a. jika semua ini telah difahami, seharusnya berdoa’a itu hanya untuk ibadah mengabdikan diri kepadaNya (Lil Ibadah), sebagai mana sabda Nabi saw : “addu’aa’u much khul ibaadah” (do’a itu adalah otaknya (kepalanya) ibadah)..

Otak itu adalah bahagian tubuh manusia yang paling penting fungsinya untuk mengatur kehidupan manusia, tanpa otak yang sehat maka manusia itu tidak berarti bahkan akan dikatakan tidak normal dan sebagainya, dengan demikian do’a adalah ibadah yang sangat tinggi nilainya, hal ini dikarenakan didalam berdo’a itu sendiri memiliki arti antara lain :

1. Penghormatan.

Berdo’a otomatis bernialai penghormatan, sebab orng yang meminta (berdo’a) tersebut otomatis melakukan fujian-fujian kepada yang dimohoni, juga didasari keyakinan bahwa yang dimohoni itu pasti memiliki kemampuan untuk mengabulkan (mengijabahi), apakah mungkin seorang yang miskin dapat menolong orang lain dengan meminjamkan harta, atau mungkinkah seseorang yang tidak memiliki kekuasaan dimintai tolong untuk menyelamatkan dan sebagainya, dengan demikian meminta (berdo’a) tersebut otomatis meyakini bahwa yang dimintai pertolongan tersebut pasti mampu dan memiliki kemampuan dan sebagainya.

2. Zikir.

Kemudian dikatakan bahwa berdo’a itupun dapat berarti zikir (mengingat), apakah mungkin mengajukan permohonan kepada seseorang tetapi dilakukan dengan tanpa kesadaran (hati lengah), “wahai fulan aku minta tolong…”, apakah mungkin pengucapan kata-kata permohonan itu diucapkan tanpa kesadaran bahwa si fulan tersebut tidak mendengar permohonannya, atau sifulan tersebut tidak berada dihadapannya dan sebagainya, jika memang pengucapan-pengucapan tersebut diucapkan dengan tidak disertai kesadaran bahwa Allah itu maha mendengar, Allah itu maha memperhatikan, Allah itu amat dekat dengannya dan sebagainya, maka yang demikian itu tidak dapat dikatakan sebagai do’a.

3. Mengakui kelemahan diri dan ketergantungan kepada Allah.

Kemudian dikatakan bahwa “berdo’a” juga dapat diartikan sebagai pengakuan diri betapa lemahnya diri, betapa ia tidak memiliki kemampuan, juga pengakuan terhadap ketergantungan diri tersebut kepada yang dimohoni, sebab sesuatu yang dimohoni itu pastilah keadaannya lebih baik dan lebih kuat dari yang memohon.

Jika hal ini telah difahami, hendaknya didalam berdo’a tersebut harus disertai kesadaran, baik didalam pengucapan fuji-fujian, maupun pengucapan terhadap maksud permohonan itu sendiri, betapa Allah itu maha mengetahui lagi maha mendengar, betapa Allah itu maha menyaksikan lagi maha dekat dengan diri dan sebagainya, maka setengah dari pada hijabnya do’a tersebut adalah dimana berdo’a tersebut dilakukan bukan untuk melaksanakan perintah, tetapi demi untuk memenuhi keinginan hawa nafsu.
Maka berdo’alah kepada Allah dan mintalah apapun yang kamu inginkan sebab Allah memerintahkan hamba-hambanya untuk meminta apapun yang hamba inginkan asalkan permintaan tersebut tidak untuk merugikan orang lain dan tidak bersifat keterlaluan (berlebihan), sebagai mana firmannya :

“Wakuluu wasy robuu walaa tusrifuu” (al-a’rof 31)
(dan makan minumlah kamu sekalian tetapi jangan keterlaluan).

Maka memohon so’al kekayaan, so’al harta dan sebagainya semua itu diperintah tetapi jangan keterlaluan, sebab yang menjadi initi dari do’a itu adalah “ibadah” dan ibadah itu dapat diartikan “berbuat taat” dalam arti mau melaksanakan perintah yaitu melaksanakan perintah Allah untuk berdo’a tersebut, dengan demikian maka mereka yang berdo’a yang disertai niat yang murni hanya karena Allah dan didalamnya selalu disertai kesadaran kepadaNya, otomatis mereka itu termasuk orang yang taat sebab telah melaksanakan perintah khususnya perintah untuk berdo’a tersebut.

Dengan demikian jika semuanya telah difahami, sungguh alangkah jauhnya perbedaan antara mereka yang berdo’a lil ijabah dengan mereka yang berdo’a lil ibadah tersebut.

Kemudian dikatakan :

“(watholabuka lahu) bi’antatluba kurbaka minhu wazawaalal hijaabi anka hattaa tusyaahidahu bi’aini qolbika (ghoibatum minka anhu)”

(Memohonmu kepada Allah agar engkau diberi kesadaran kepadaNya, dan memohonmu kepada Allah agar Allah membukakan hijabNya bagimu, itu menunjukkan bahwa engkau belum sadar kepada Allah dan engkau masih terhijab dari memandangNya)

“Jika kamu sungguh-sungguh sadar kepada Allah, dan kamu benar-benar yakin dan percaya kepadaNya, dimana kamu senantiasa merasa bahwa Allah itu selalu hadir, selalu mengawasi, selalu memberi dan sebagainya, pastilah engkau akan merasa malu memohon kepadaNya”

yang demikian itu dikatakan jika memohonnya tersebut semata-mata “lil ijabah” bukan “lil ibadah” sebab jika memohonnya tersebut semata-mata lil ibadah, otomatis memohon yang demikian memang diperintah dan sudah seharusnya harus banyak memohon kepadaNya terutama memohon so’al-so’al kesadaran kepadaNya

Kemudian dikatakan :

“watolabuka lighoirihii likillati hayaa’ika minhu”
(dan permohonanmu kepada selain Tuhanmu, itu menunjukkan bahwa engkau tak tahu malu kepada Tuhanmu)

Memohon so’al apa saja, so’al materi, so’al kenaikan pangkat, so’al mukasyafah dan sebagainya bila tidak didasari “lil ibadah”, itu menunjukkan sikap tidak tahu malu kepada Tuhan, sebab memohon yang tidak didasari lil ibadah tersebut otomatis hanya demi memuaskan hawa nafsunya semata, walaupun memohon so’al kebaikan akhirat sekalipun bila tidak didasari lil ibadah tersebut, otomatis hanya untuk kepentingan hawa nafsu.

Kemudian dikatakan juga :

“Watholabuka min ghoirihi liwujuudi bu’dika anhu”
(dan memohonmu kepada selain Tuhan, itu menunjukkan betapa jauhnya kamu dari Tuhan)

Andai kamu merasa selalu dekat dengan Allah yang selalu memberi, selalu mengetahui dan sebagainya, pastilah kamu tidak akan berani meminta kepada selain Allah.

“bi’an tawajjahta ilaa ba’din naasi”

Seperti halnya engkau meminta atau engkau mengarahkan dan menyandarkan segala harapanmu kepada sesama manusia, kemudian engkau tidak sadar bahwa sesungguhnya manusia yang engkau jadikan sandaran itu semua kemampuannya adalah sebab dimampukan oleh Allah sehingga engkau hanya mengandalkan manusia semata (makhluk), maka yang demikian itu menunjukkan alangkah jauhnya engkau dari Allah, sebab seandainya engkau sadar bahwa sesungguhnya semua manusia ataupun makhluk yang lainnya itu semuanya itu tidak mampu menolong melainkan dimampukan oleh Allah, pastilah kamu akan malu meminta pertolongan kepada sesamamu terkecuali jika engkau sadar bahwa pertolongan itu haqiqatnya dari Allah, sementara sesamamu itu tidak lebih hanya sebuah perantara (penyebab) dimana engkau dapat memperoleh pertolongan Allah tersebut..

“iz laukunta qoriibam minhu lakaana ghoiruhuu ba’iidan anka walau kunta syaahidan liqurbihii minka laktafaita bihii an saa’iri kholkika…..’’

Dikatakan bahwa jika engkau dekat (sadar) dengan Allah, otomatis engkau jauh dari makhluk (selain Allah), dan jika dekat dengan makhluk (hanya sadar kepada makhluk) otomatis engkau jauh dari Allah.

“fath tholabu kulluhu minal muriidiina ma’luulun sawaa’un kaana muta’alliqon bil haqqi awil haqqi illaa maa kaana alaa wajhit ta’abbudi wat ta’az zubi wat tibaa’il amri wa’izhaaril faaqoti”

Intinya segala permohonan baik kepada Allah langsung maupun kepada sesama makhluk, dikatakan semua telah menyimpang dari tuntunan yang diajarkan oleh beliau Rosululloh saw, terkecuali permohonan tersebut didasari niat yang murni hanya karena Allah juga disertai kesadaran kepadaNya saat memohon tersebut.

“ammal aarifuuna falaa yarouna ghoiralloohi ta’aalaa fatholabuhum laysa minal makhluuqi fil haqiiqoti wa’inkaana minhu bihasabiz zhoohiri”

Seseorang yang telah sadar kepada Allah (Minal Aarifiin), mereka itu tidak melihat selain Allah, sehingga ketika ia memohon, baik memohonnya kepada Allah secara langsung maupun memohonnya kepada sesama makhluk, semua itu selalu dijiwai oleh kesadaran kepada Allah, sekalipun lahiriyyahnya ia terlihat meminta bantuan kepada sesama makhluk tetapi haqiqatnya ia hanya meminta kepada Allah swt, sebab dalam pandangan bathin mereka itu, semua makhluk khususnya yang dimintai pertolongan tersebut sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menolong melainkan hanya Allahlah yang memberikan kemampuan tersebut sehingga si makhluk tersebut dapat menolongnya.

“maa min nafsin tubdiihi illaa walahuu fiika qodarun yumdiihi”
(tidak ada nafas yang keluar masuk, kecuali pada setiap keluar masuknya nafas tersebut ada suatu qadar yang harus dilaksanakan)

Setiap orang yang menjalani hidup pasti ia menjalani waktu, dan dikatakan bahwa setiap detik yang dijalaninya tersebut pasti dalam keadaan, entah keadaan sehat, entah keadaan sakit, keadaan senang, keadaan sulit, keadaan kaya ataupun keadaan melarat, keadaan maksiyat ataukah keadaan taat, keadaan sedang menjadi hamba Allah (Abdulloh) ataukah sedang menjadi hamba Nafsu (Abdun nafsi) dan sebagainya, dikatakan bahwa setiap hari nafas yang keluar masuk tersebut kurang lebih berjumlah 24 ribu keluar dan 24 ribu masuk yang intinya semua pasti dalam keadaan tertentu, maka waktu atau nafas tersebut adalah harus dipandang sebagai suatu ni’mat dan semua itu pasti akan dimintai pertanggung jawabannya kelak di yaumil qiyamah.

Maka hendaknya setiap nafas atau waktu tersebut harus sekuat mungkin dimanfaatkan untuk kepentingan ibadah kepadaNya, untuk meningkatkan kesadaran kepadaNya dan sebagainya, jika ternyata keadaan yang dialami tersebut adalah dalam keadaan sadar kepada Allah, maka harus disyukuri semua itu min indillah (karunia dari Allah) maka fal nahmadillah (banyaklah memuji Allah), dan sebaliknya bila ternyata keadaan yang dialaminya tersebut dalam maksiyat, tidak sadar kepada Allah, dalam keadaan tidak berdaya dibawah pengaruh hawa nafsu dan sebagainya maka fastaghfarullooh (maka bertaubatlah dengan memohon ampunan) kepadaNya.

“wamaa ashoobaka min sayyi’atin famin nafsika” (an-nisa 79)

Semua kekhilafan yang dialami oleh keadaan tersebut harus diakui bahwa semua itu dari diri sendiri (hawa nafsu) karena hawa nafsu tersebut khususnya “Nafsu ananiyah” ia selalu mengaku-aku, ia mengaku mampu, ia mengaku pintar, mengaku lebih baik dari orang lain dan sebagainya dan ia tidak mau disalahkan.

BERSAMBUNG KE EDISI 122
Fahamilah setiap edisi demi edisi nya agar tidak terjadi kesalahan didalam memahaminya
---------- “” ----------

Komentar

Postingan populer dari blog ini

1. ILMU TAUHID EDISI 001

20. ILMU TAUHID EDISI 020

2. ILMU TAUHID EDISI 002