120. ILMU TAUHID EDISI 120

TENTANG TULUL AMAL (MENUNDA-NUNDA KEBAIKAN)
Kemudian dikatakan :

“ihaalatukal a’maala alaa wujuudil firooghi min ru’uunaatin nafsi”
(menangguhkan amal-amal ibadah, menangguhkan berbuat kebaikan adalah setengah dari pada sifat-sifat nafsu yang bodoh)

Sungguh menangguhkan dan menunda-nunda untuk berbuat kebaikan itu merupakan ajakan hawa nafsu yang bodoh, dialah yang menyeret dirimu kepada kebinasaan dan kehancuran, dalam al-qur’an surat al-hadid ayat 16 Allah berfirman :

“alam ya’ni lil ladziina’aamanuu antakhsya’aquluubuhum lizikrillaahi wamaa nazala minal haqqi”
(belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk menundukkan hati mereka khusyu’ mengingat kepada Allah dan kepada kebenaran-kebenaran yang telah turun kepada mereka”

Kemudian disebutkan juga dalam sebuah hadis :

“ightanim khomsan qobla khomsin syabaabaka qobla haroomika wasih hataka qobla saqomika wafarooghoka qobla syughlika waghinaaka qobla faqrika wahayaataka qobla mautika” (HR Hakim dari Ibnu Abbas)

(peliharalah lima sebelum datang yang lima, masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum datang sakitmu, senggangmu sebelum datang sibukmu, kayamu sebelum datang miskinmu, hidupmu sebelum datang matimu).

Jika semua itu telah engkau fahami, seharusnya, bagaimana pun keadaanmu itu engkau harus tetap sekuat mungkin memanfaatkan keadaanmu itu untuk banyak berbuat kebaikan, beribadah dan memperbanyak sadar serta ingat kepada Allah Tuhanmu.

“fazkurullooha qiyaamaw waqu’uudaw wa’alaa junuubikum” (an-nisa 153) (ingatlah kepada Allah diwaktu berdiri, duduk maupun berbaring)

Intinya dimanapun berada dan apapun yang dilakukan hati itu harus senantiasa diisi zikir kepada Allah dan yang dimaksud zikir itu sendiri adalah berusaha dengan sekuat tenaga (bermujahadah) untuk menghidupkan zauqiyah agar senantiasa sadar kepada Allah tersebut sehingga ia senantiasa syhuhud hanya kepada Allah tersebut didalam segala apapun, melihat dan menemukan yang wujud, spontanitas sadar kepada Allah, melihat dan menemukan aktifitas diri spontanitas sadar (syuhud) kepada Allah hingga tiada merasa’ melihat, mendengar, bekerja dan sebagainya apapun adanya melainkan senantiasa disertai kesadaran (syuhud) kepada Allah tersebut.

Maka ketahuilah bahwa menunda-nunda berbuat kebaikan atau berbuat ketaatan (tulul amal) tersebut disamping tidak tepat, sebelum sampai pada waktu yang ditangguhkan ia telah lebih dahulu menemui kematian, mungkin bila tidak menemui kematian tersebut bisa jadi semangatnya menjadi menurun karena diperdaya oleh hawa nafsunya sendiri, atau bisa jadi datang acara-acara baru yang lain dan sebagainya, karena sesungguhnya manusia itu selalu dikelilingi oleh berbagai macam kepentingan ini dan itu yang tidak ada habisnya yang sudah menjadi sifatnya dunia, satu perkara belum selesai sudah datang perkara yang lainnya, dimana setiap perkara itu memiliki tuntutan tersendiri, ingin ini dan ingin itu, perlu ini dan perlu itu dan seterusnya yang sesungguhnya bila dituruti pastilah semua tidak akan pernah ada habisnya, maka bila hendak melakukan ketaatan-ketaatan atau kebaikan-kebaikan harus menunggu hal-hal yang sesungguhnya tidak pernah ada habisnya tersebut, otomatis ketaatan-ketaatan dan perbuatan-perbuatan baik tersebut selamanya tidak akan pernah dapat dikerjakan bahkan hingga keburu ajal menjemput yang pada akhirnya hanya akan membuahkan penyesalan yang tak pernah berakhir setelah kematian nanti.

“Al waktu kasy syaif ill lam taqto’hu qoto’aka”
(waktu itu seperti pedang, jika kamu tidak memanfaatkannya niscaya ia akan memotong lehermu)

Waktu itu adalah kesempatan dan kesempatan itu adalah setengah dari pada rahmat karunia Allah yang harus disyukuri, dan mensyukuri kesempatan itu dimana engkau tidak hanya sebatas mengucapkan Fujian, tetapi engkau harus menyatakannya dalam bentuk ketaatan-ketaatanmu kepadanya, dimana engkau lebih banyak sadarnya kepada Allah Tuhanmu itu, jika engkau telah lebih banyak kesadaranmu kepada Allah tersebut maka ibarat pedang, sesungguhnya engkau itu telah dapat memanfaatkan pedang dengan baik, tetapi jika engkau selalu terlena dan tidak berdaya dengan ajakan hawa nafsumu, pastilah engkau akan terus menerus menunda-nunda amal-amal (tulul amal) dimana sesungguhnya engkau telah menyia-nyiakan berbagai kesempatan yang engkau miliki dan engkau laksana seseorang yang sama sekali tidak mau memanfaatkan pedang.
kelak pedang itu akan memotong lehermu sendiri dan hidupmu kelak diakhirat akan selalu ditemani dengan berbagai macam penderitaan, jika engkau menderita didunia pastilah engkau masih bisa meminta bantuan kepada sekelilingmu, tetapi menderita diakhirat itulah seburuk-buruk penderitaan dimana engkau sama sekali tidak dapat meminta bantuan kepada siapapun.

Kemudian dikatakan :

“laa that lub minhu an yukhrijaka min haalatin liyasta’milaka fimaa siwaaha falau aroodaka las ta’malaka min ghoiri ikhroojin”

(engkau jangan meminta kepada Allah supaya engkau dipindahkan dari satu keadaan kepada keadaan lain, sebab bila Allah menghendaki Ia bisa mengubah keadaanmu tanpa harus mengubah keadaan yang lama)

Maka meminta dikeluarkan dari satu keadaan yang dihadapi seperti profesi sebagai pekerja, sebagai petani, sebagai guru dan sebagainya yang maksudnya bila telah keluar dari keadaan tersebut ia dapat dengan senggang melakukan ibadah-ibadah kepada Allah swt, sebab bisa jadi terdapat pemikiran bahwa andai saya tidak bekerja di tempat ini tentulah saya dapat beribadah dengan tenang dan sebagainya, maka pemikiran-pemikiran tersebut sama sekali tidak benar sebab yang demikian sama saja dengan tidak ridho menerima pemberian Allah yang berlaku atasnya, justru adanya berbagai profesi tersebut agar dengan profesi-[rofesi tersebut mereka yang menjalaninya dapat beribadah kepada Allah swt.

Dengan demikian, jika Tuhan menghendaki, mengasihi atau meridhoi kepada seseorang sekalipun bagaimanapun juga, maka orang itu dapat beribadah yang intinya jika seseorang telah mendapat hidayah dari Allah, otomatis jika ia pedagang maka dagangnya tersebut untuk ibadah, jika ia pekerja maka bekerjanya tersebut untuk ibadah dan sebagainya, dan semua itu otomatis menjadi ibadah selama hal-hal yang dilakukannya tersebut tidak bertentangan dengan syari’at agama, artinya selama keadaan dimana dia berada tadi tidak bertentangan dengan syari’at tetapi jika bertentangan harus sekuat dan secepat mungkin pindah kepada keadaan yang tidak dilarang oleh syari’at, sebab jika tidak segera pindah kemungkinan besar akan menyalah gunakan seperti timbulnya semacam pemikiran “yah, bagai mana lagi, saya memang sudah ditakdirkan begini, menjadi orang yang buruk dan sebagainya tidak mungkin saya akan menjadi orang baik” yang demikian disebut su’ul adab kepada Allah dan menyalahkan dalil khoirihi wasyarrihii minalloh, kemudian dikatakan bahwa :

“man tafaqqoha walaa tashow wafa faqod tafas saqo, waman tashow wafa walaa tafaqqoha faqod tazandaqo, waman tafaqqoha watashow wafa faqod tahaq qoqo”

(barang siapa yang hanya bersyari’at saja (fiqh) tanpa bertasawwuf maka sungguh ia telah fasik (merusak agamanya), dan barang siapa yang bertasawwuf tanpa fiqh (syari’at) maka sungguh ia telah zindik (bertentangan dengan syari’at), dan barang siapa yang bersyari’at juga bertasawwuf maka sungguh ia menjalani haqiqat yang sesungguhnya).

Dengan demikian harus keduanya dijalani artinya kedua bidang tersebut harus diisi dan bukan dipisahkan satu sama lainnya karena keduanya tersebut harus saling melengkapi untuk dapat mencapai derajat taqwa disisi Allah swt.

Terkecuali bagi mereka yang mendapat petunjuk atau hidayah secara khusus dari Allah swt, atau mereka yang mendapat tarbiyah (bimbingan) dari seorang guru yang kamil mukammil (mursyid), otomatis mereka harus mengikuti petunjuk-petunjuk dari gurunya tersebut.

Kemudian dikatakan bahwa, seorang salik atau murid yang sedang berjalan menuju kepada Allah tersebut agar jangan terpengaruh oleh apapun yang dialaminya, sebab bisa jadi ia akan mengalami berbagai pengalaman ruhani, pengalaman bathin melalui mukasyafah, dengan zauqiyyah yang demikian diperingatkan agar jangan terpengaruh sebab bila terpengaruh akan menghambat jalan itu sendiri bahkan mungkin akan sama sekali terhenti perjalanan tersebut untuk mencapai wushul ma’rifat kepada Allah swt, yang demikian selalu diperingatkan oleh suara gho’ib dari Tuhan (hawaatiful haqiiqoh) dengan berkata :

“sir wajidda fis sairi laa takif”
(ayo terus berjalan dan jangan berhenti)

“fa’innal ladzii tath lubuhuu amaamaka”
(apa yang kamu tuju masih berada dihadapanmu)

“wahua wushuuluka ilal maulaa wa’adamu rukuuni qolbika ilaa syai’in syiwaahu”
(yaitu wushulmu kepada Tuhanmu dan tidak cenderungnya hatimu kepada selain Tuhanmu).

Begitu pula ketika mengalami pengalaman-pengalaman yang memikat hati seperti dihormati oleh banyak orang, atau bisa jadi so’al ekonominya menjadi mudah apa-apa yang diusahakannya selalu berhasil dan sukses, atau bisa jadi diberi berbagai keistimewaan seperti “khoriqul aaddah” mudah mendapat alamat-alamat atau berita-berita sirri (yang bersifat rahasia atau gho’ib) atau mendapat khoriqul aaddah yang lainnya seperti bisa menghilang, dapat berjalan diatas air, dapat pergi kesuatu tempat yang jauh hanya dalam sekejap, dapat mengetahui keadaan hati orang lainnya dan sebagainya, maka hendaknya jiwa atau hati jangan terpengaruh dengan yang demikian ingatlah peringatan tersebut diatas “sir wajidda fis sairi laa takif” (ayo terus berjalan dan jangan berhenti) “fa’innal ladzii tath lubuhuu amaamaka” (apa yang kamu tuju masih berada dihadapanmu) “wahua wushuuluka ilal maulaa wa’adamu rukuuni qolbika ilaa syai’in syiwaahu” (yaitu wushulmu kepada Tuhanmu dan tidak cenderungnya hatimu kepada selain Tuhanmu).

Bahkan sesungguhnya pengalaman-pengalaman dan keistimewaan-keistimewaan tersebut selalu memperingatkan bahwa “innamaa nahnu fitnatun falaa takfur” (aku ini hanya ujian bagimu, maka janganlah terpengaruh kepadaku).

Intinya kesadaran itu harus terus ditingkatkan hingga ajal menjemput dan jangan merasa telah memiliki derajat yang tinggi sebab sudah memiliki khoriqul aaddah tersebut atau sebab sudah memiliki pengalaman-pengalaman ruhani dan sebagainya, dikatakan bahwa,

“jika engkau hendak menuju matahari, jangan engkau terpesona (terpengaruh) oleh indahnya awan, sungguh awan itu hanyalah ujian bagimu, jika engkau terpengaruh dan tertarik kepada indahnya awan tersebut, maka sungguh perjalananmu itu akan terhenti hanya sampai diawan itu dan selamanya kamu tidak akan pernah sampai kepada matahari, karena itu teruslah berjalan dan jangan hiraukan indahnya awan tersebut sebab matahari yang menjadi tujuanmu masih ada dihadapanmu”

BERSAMBUNG KE EDISI 121
Fahamilah setiap edisi demi edisi nya agar tidak terjadi kesalahan didalam memahaminya
---------- “” ----------

Komentar

Postingan populer dari blog ini

1. ILMU TAUHID EDISI 001

20. ILMU TAUHID EDISI 020

2. ILMU TAUHID EDISI 002