6. TENTANG "PENTINGNYA MEMAHAMI ILMU-ILMU MA’RIFAT"

Pada kenyataannya dewasa ini telah banyak orang beranggapan (beropini) bahwa “Ilmu Ma’rifat” itu adalah ilmunya para wali dan tidak sembarang orang dapat mempelajarinya, karena itu melalui tulisan ini saya ingin sampaikan dan ingin saya katakan bahwa opini dan anggapan yang demikian itu adalah “satu bentuk kekeliruan”, justru pemahaman-pemahaman terhadap ilmu-ilmu tersebut sedini mungkin harus ditanamkan dan bahkan telah disebutkan dalam kitab aqo’idul iman bahwa :

“awwalu waajibin alal insaani ma’rifatun ilaahi bistiqoonihii”
(yang pertama-tama diwajibkan atas setiap insan (manusia) adalah ma’rifat (mengenal) kepada Tuhannya dengan teguh)

Juga dijelaskan dalam kitab zubad bahwa :

“belum beragama orang yang belum ma’rifat (mengenal) kepada Tuhannya”

Kemudian disebutkan pula didalamnya bahwa :

“awwalu diini ma’rifatulloh”
(permulaan agama adalah ma’rifat (mengenal) Alloh (Tuhannya))

jika ini difahami, maka sudah seharusnya mempelajari ilmu-ilmu Tauhid dan menanamkannya tersebut kedalam jiwa adalah merupakan hal yang sangat prinsip dan sangat pokok (penting) untuk diutamakan bukan sebaliknya harus dihindari dan sebagainya.

Dan ketahuilah bahwa secara harfiyah atau lughoh (bahasa) “ma’rifat” itu dapat berarti “mengenal”, tetapi dalam pengertian suluk, kata “ma”rifat” tersebut dapat diartikan “mengenal Allah yang mampu mencapai tingkat kesadaran tertentu dimana orang yang mengalaminya akan dapat membangun hubungan kepada yang dima’rifatinya tersebut dengan lebih harmonis dan sempurna" maka bila kesadarannya didalam berma’rifat tersebut hanya 1 meter, otomatis keharmonisan didalam berhubungan kepada yang dima’rifatinya tersebutpun hanya satu meter pula, dengan demikian maka semakin tinggi kema’rifatan seseorang kepada Allah (semakin sadar atau semakin mengenal), maka otomatis tingkat hubungan yang terjalin antara ia dengan Tuhannya akan semakin jauh dan dalam, bahkan dikatakan bahwa “ma’rifat Billah wa Rosulihi saw” tersebut kedalamannya ibarat lautan yang tidak memiliki dasar (tanpa batasan).

Jika anda berasumsi bahwa “ilmu ma’rifat” itu identic dengan kecendrungan untuk menjauhi dunia, hidup penuh kemiskinan, dan sebagainya maka yang demikian itu adalah kekeliruan, sebab ini berhubungan dengan masalah bathiniyah.

“Kenapa engkau malah menghindari untuk mempelajari ilmu-ilmu kema’rifatan, bukankah dengan ilmu itu engkau akan dapat mengenal Tuhanmu?, bukankah mengenal Tuhanmu itu adalah hal yang paling pertama diwajibkan bagimu?, lalu bagaimana mungkin engkau dapat menyembahNya (badah) jika engkau tidak mengenalNya? sungguh ironis anggapanmu itu”

“kewajibanmu hanyalah melaksanakan perintah-perintah Tuhanmu sedangkan hasil adalah urusan Tuhanmu, jangan engkau campur adukkan antara hak dan kewajibanmu, Laksanakanlah kewajiban-kewajibanmu dan jangan pernah kamu memikirkan haq-haqmu, sebab apa-apa yang menjadi haqmu itu adalah kewajiban Tuhanmu”

Kemudian jika anda berasumsi bahwa “ilmu ma’rifat” itu adalah ilmunya para wali dan tidak pantas untuk orang-orang seperti kita untuk mempelajarinya dan sebagainya, sesungguhnya asumsi seperti itu bersumber dari dua hal yang kita semua harus mengetahuinya :

Pertama, Faktor Sejarah.

Kita semua tahu bahwa bangsa ini dapat merdeka mayoritas adalah sebab semangat jihad yang dikobarkan oleh para ulama dizamannya, dimana para pejuang tersebut diberikan kefahaman-kefahaman (doktrin-doktrin) terhadap konsep keimanan, agama dan sebagainya, yang kesemuanya itu hanya dapat diterima bila didalam hati telah tertanam keyakinan (pengenalan) kepada Allah sehingga otomatis membuahkan semacam prinsip bahwa Ridho Allah itu adalah segala-galanya bahkan nyawa sendiri wajib dikorbankan bila jaminannya adalah keridho’anNya.

Maka sungguh hanya mereka yang memiliki keyakinan kuat (iman) saja yang akan memiliki prinsip tersebut, bahkan diibaratkan jika dilehernya terhunus pedang kemudian ia diberikan pilihan meninggalkan iman dan ia selamat dari pedang  tersebut ataukah ia memilih tetap beriman tetapi tidak selamat dari pedang, maka mereka yang memiliki keimanan tersebut pasti akan lebih memilih tetap mempertahankan keimanannya

Para penjajah pada saat itu sangat menyadari, bahwa inti kekuatan para pejuang tersebut adalah terletak pada prinsip keyakinan seperti itu, hingga mereka melakukan berbagai upaya pencegahan agar doktrin-doktrin keimanan seperti itu tidak berkembang, dan diantara usaha-usaha tersebut mereka membuat doktrin tandingan (issu) bahwa apa-apa yang mereka pelajari tersebut terlalu jauh dan mereka katakana bahwa itu hanya untuk tingkatan para wali dan sebagainya, kemudian mereka katakana belum saatnya untuk mempelajarinya sebab masih banyak hal yang harus dipelajari sebelum masuk kepada dimensi keimanan (ma’rifat) tersebut, para penjajah tersebut tahu jika mereka mempelajari ilmu tersebut otomatis akan membuahkan prinsip yang sangat kokoh sehingga tidak ada sesuatupun yang ditakutinya melainkan Allah, mereka akan akan dengan suka rela berjuang melawan penjajah walau tanpa imbalan sedikitpun sebab bagi mereka itu Allah dan keridho’annya adalah tujuan dari segala tujuannya.

Kemudian disamping itu para penjajah tersebut melakukan pelarangan terhadap adanya kumpulan-kumpulan (majlis) terutama majlis-majlis thoreqoh, sebab dari majlis-majlis seperti itulah akan banyak dilahirkan manusia-manusia pejuang yang memiliki prinsip tersebut, sehingga mereka melarangnya.

“Lihatlah sejarah…….
sungguh dengan berma’rifat kepada Tuhanmu itu tiada rasa takut dan hawatir sedikitpun dihatimu kecuali selain Tuhanmu, dan tahukah engkau sesungguhnya semangat jihad mengusir penjajah pada waktu  itu sebab jiwa yang memiliki kema’rifatan, hingga para penjajah itu membentuk opini baru untuk menangkal semangat jihad mereka”

Kedua, factor Minimnya Pengetahuan.

Sumber kedua dimana banyak orang berasumsi bahwa “ilmu ma’rifat” itu belum layak untuk dipelajari adalah sebab minimnya ilmu pengetahuan (kurangnya pemahaman), dimana mereka beranggapan bahwa ilmu ma’rifat itu adalah suatu ilmu yang erat hubungannya dengan hal-hal yang bersifat mistis, identic dengan laku ritual tertentu dan sebagainya.

Jika anda memiliki asumsi yang demikian, berarti galeri penjajah itu masih erat melekat pada diri anda dan untuk menghilangkannya adalah tiada jalan lain kecuali harus lebih memahami hal ihwal ilmu-ilmu ma’rifat itu sendiri, dan ketahuilah bahwa “ma’rifat” itu dapat berarti “mengenal” dan dapat berarti pula “kesadaran” yaitu sadar terhadap yang dima’rifatinya, dan sesungguhnya didalamnya itu memiliki dua tingkatan dan kami menyebutnya pertama adalah tingkatan “Ma’rifat Billah Bil Aqli” dan kedua adalah tingkatan “Ma’rifat Billah Biz Zauq”.

“ingatlah…..
sungguh engkau itu tidak diperintah dan tidak diwajibkan untuk menjadi seorang waliyulloh, tetapi engkau hanya diperintah untuk terus bersungguh-sungguh mengikuti jalan mereka….
luruskanlah… opinimu itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

1. PEMBUKAAN

3. TENTANG "KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU"