Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2017

7. TENTANG "MENGENAL ALLAH (MA’RIFAT) DAN TUJUANNYA"

“Jangan engkau menyangka bahwa “ma’rifat” itulah tujuanmu, sungguh ma’rifat itu hanyalah sebuah alat dimana dengan alat itu engkau akan mampu mencapai derajat taqwa disisi Tuhanmu yang seharusnya menjadi tujuanmu
dan sungguh ma’rifat itu dapat engkau capai walau tanpa amal-amal ketaatan sekalipun”Ketahuilah bahwa sesungguhnya keadaan ma’rifat itu dapat dicapai dengan menghidupkan bathin (zauqiyyah), dan untuk menghidupkan bathin tersebut diperlukan usaha pengosongan jiwa dari segala sesuatu selain mengisi jiwa tersebut dengan sesuatu yang ingin dima’rifatinya itu, dan untuk mengosongkan jiwa tersebut dapat ditempuh berbagai cara seperti melakukan tapa brata (kholwah) dan semacamnya, maka ma’rifat itu adalah satu keadaan (keadaan sadar) terhadap sesuatu yang dima’rifatinya sebab ia berinteraksi langsung dengan mengalaminya sendiri, seperti ketika anda tahu bahwa madu itu manis dan disaat yang sama manisnya madu tersebut sedang anda rasakan dilidah anda, maka yang demikian itulah yang d…

6. TENTANG "PENTINGNYA MEMAHAMI ILMU-ILMU MA’RIFAT"

Pada kenyataannya dewasa ini telah banyak orang beranggapan (beropini) bahwa “Ilmu Ma’rifat” itu adalah ilmunya para wali dan tidak sembarang orang dapat mempelajarinya, karena itu melalui tulisan ini saya ingin sampaikan dan ingin saya katakan bahwa opini dan anggapan yang demikian itu adalah “satu bentuk kekeliruan”, justru pemahaman-pemahaman terhadap ilmu-ilmu tersebut sedini mungkin harus ditanamkan dan bahkan telah disebutkan dalam kitab aqo’idul iman bahwa :“awwalu waajibin alal insaani ma’rifatun ilaahi bistiqoonihii”
(yang pertama-tama diwajibkan atas setiap insan (manusia) adalah ma’rifat (mengenal) kepada Tuhannya dengan teguh)Juga dijelaskan dalam kitab zubad bahwa :“belum beragama orang yang belum ma’rifat (mengenal) kepada Tuhannya”Kemudian disebutkan pula didalamnya bahwa :“awwalu diini ma’rifatulloh”
(permulaan agama adalah ma’rifat (mengenal) Alloh (Tuhannya))jika ini difahami, maka sudah seharusnya mempelajari ilmu-ilmu Tauhid dan menanamkannya tersebut kedalam jiwa …

5. TENTANG "PENGERTIAN MA’RIFAT DALAM KONSEP ILMU TAUHID"

“Dan tiadalah “ma’rifat” itu melainkan didalamnya memiliki dua cabang, ketika engkau “tahu” bahwa madu itu manis rasanya dimana akal fikiranmu membenarkan kemudian hatimupun meyakininya, sungguh engkau telah “berma’rifat” secara akal fikiranmu (ma’rifat bil-aqli), tetapi ketika engkau tahu dan yaqin bahwa “madu” itu manis rasanya dan disaat yang sama manisnya madu itu sedang engkau rasakan dilidahmu, sungguh engkau itu sedang berma’rifat secara “zauqiyyahmu” (ma’rifat biz zauq).
Jika engkau hanya yaqin terhadap adanya Tuhanmu sebab engkau telah memahaminya (berilmu), dimana Dia itu Esa (tunggal) dan Dia itu maha segalanya bagimu sebab engkau telah membenarkannya melalui atsar-atsarNya, sungguh engkau itu telah berma’rifat secara akalmu (bil aqli) kepadaNya, tetapi ketika engkau sungguh-sungguh dapat merasakannya dimana wujud Tuhanmu, sifat serta af’alNya Tuhanmu itu esa (tunggal), sehingga engkau tidak menemukan yang berwujud, bersifat serta beraf’al melainkan senantiasa bersama Tuhan…

4. TENTANG "TUJUAN MEMPELAJARI ILMU-ILMU TAUHID"

“Tauhid itu artinya “Esa”, sungguh engkau tidak akan mampu mengesakan Tuhanmu andai engkau tidak mengenal (ma’rifat) kepadaNya, dan tiadalah “ilmu tauhid” itu melainkan engkau diajarkan bagaimana mengenal (ma’rifat) kepada Tuhanmu hingga engkau mentauhidkannya (mengesakannya) didalam setiap amal-amalmu dan disepanjang aktifitas kehidupanmu”Adapun tujuan utama mempelajari ilmu tauhid tersebut, agar setiap mu’min dapat mengenal Tuhannya, kemudian mengesakanNya, juga faham dan mengerti akan sifat-sifatNya dan sebagainya, kemudian semua itu akan menjadi dasar baginya untuk beribadah mengabdikan diri serta membangun hubungan kepadaNya, sebab bagai mana mungkin ia dapat beribadah mengabdikan diri atau bagaimana ia dapat membangun hubungan jika ia tidak tahu kepada siapa ia harus mengabdikan diri tersebut, sedangkan  beribadah mengabdikan diri tersebut adalah merupakan tujuan utama dari diciptakannya manusia itu sendiri, sebagai mana disebutkan bahwa :“wamaa kholaqtul jinna wal insa illaa li…

3. TENTANG "KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU"

( Hatimu itu laksana gudang dimana didalamnya dapat engkau simpan berbagai pengetahuan yang engkau tangkap melalui panca indramu sedangkan fikiranmu itu laksana perencana yang dapat menyempurnakan pengetahuanmu itu )Yang dimaksudkan dengan “Ilmu” tersebut adalah “pengetahuan” dimana dengan pengetahuan tersebut akan dapat diketahui hal ihwalnya segala sesuatu, maka tanpa pengetahuan tersebut otomatis menjadi mustahil dapat melakukan sesuatu itu sendiri.
Ketahuilah, setengah dari pada fungsi “ilmu” itu adalah dimana ia dapat menjadi perangsang bagi hati untuk membuktikan kebenaran dari ilmu itu sendiri, seperti halnya keinginan untuk menggunakan korek api.( Al-Ilmu nuurun” (Ilmu itu laksana cahaya), jika hatimu itu dipenuhi oleh cahaya ilmu, niscaya ia akan mampu mempengaruhi hatimu untuk bertindak sebagaimana yang diketahui oleh ilmu yang meneranginya, sebab tidak mungkin keinginan itu dapat tumbuh dihatimu jika tidak adanya sesuatu yang diketahui oleh hatimu (berupa ilmu) )Seandainya …